Monday, January 01, 2007

Gerakan Syahwat Merdeka

Sore ini, seperti biasa, Jakarta menyengat panas. Wajah-wajah kuyu para pekerja menambah rautan panasnya Ibukota Indonesia. Tanah yang kata banyak orang kampung adalah syurga pekerjaan. Nyatanya tentu berbeda; bagi yang bermodal nekat, Jakarta bukanlah seorang sahabat karib.

Sore ini adalah hari Rabu tanggal 20 Desember 2006. Bagi sebagian orang, tampaknya hari ini bukan hari yang spesial. Bagi sebagian orang lainnya, hari ini adalah hari yang spesial karena hari dilangsungkannya Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2006 di Balai Sidang Jakarta. Bagi aku, hari ini spesial, tetapi bukan karena AMI Awards. Ada satu acara lagi yang hilang dari hingar-bingar publik, yaitu Akademi Jakarta Awards yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini Raya, Jakarta Pusat.

Untuk itu, selepas magrib, aku memasuki Taman Ismail Marzuki untuk melihat Akademi Jakarta Awards, penghargaan bagi para seniman. Ruangannya begitu dingin, tidak seperti udara Jakarta yang sangat menyengat. Kulihat di beberapa sudut tempat duduk beberapa tokoh nasional seperti Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah), Slamet Abdul Syukur (pemusik kontemporer), dan masih banyak lagi yang aku sendiri tidak kenal termasuk para wartawan harian nasional seperti Republika dan Tempo. Memang tidak ada wajah-wajah artis yang selama ini menjadi idola publik. Barang kali, teman-teman ini sedang bersilaturahmi ke AMI Awards untuk bersiap menerima penghargaan atau hanya sekedar menonton.

Sebelum acara penghargaan dimulai, Taufiq Ismail, sang maestro, berkesempatan untuk menyampaikan pidato kebudayaan. Sesuatu yang aku sangat tunggu dari manusia yang mempunyai integritas ini. Tidak seperti kuliah yang membuatku terbiasa mencatat dengan pena, aku cukup menyimaknya dan mencatatnya dalam hati. Kulirik kanan-kiri, tampaknya beberapa orang sudah tampak keasyikan dengan udara dingin ruangan.

Beginilah kiranya isi pidato Taufiq Ismail yang syarat makna namun minim publikasi. “Indonesia dikepung Gerakan Syahwat Merdeka. Gerakan Syahwat Merdeka ini tidak bersosok organisasi resmi, dan jelas tidak berdiri sendiri. Tetapi, bekerja bahu-membahu melalaui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya. Ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media massa cetak dan elektronik menjadi pengeras suaranya.”

Sesaat setelah itu, ruangan teater (Teater Kecil TIM) terdiam. Banyak orang tersentak, bahkan ada yang mengambil buku catatan kecil untuk mencatat pidato sang maestro. Ada juga yang bergumam panjang. Tapi, pidato ini belum selesai. Taufiq Ismail kemudian meneruskan pidatonya dengan menjelaskan siapa saja yang menjadi komponen syahwat merdeka tersebut. Setidaknya ada 13 pihak yang mendukung fanatik gerakan ini.

Yang pertama adalah praktisi yang sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Kedua, para penerbit majalah dan tabloid mesum yang telah menikmati tiada perlunya SIUPP. Ketiga, produser, penulis skrip, dan pengiklanan televisi. Taufiq Ismail mengatakan: “Semua orang tahu betapa ekstensifnya pengaruh layar kaca. Tayangan televisi rata-rata ditonton oleh 170 juta pemirsa. Untuk situs porno kini tersedia 4,2 juta di dunia dan 100 ribu di layar internet Indonesia. Untuk mengaksesnya malah tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari Fransisco sampai maupun Klaten (kasus adegan mesum yang dilakukan oleh oknum PNS Klaten-red.).”

Keempat, penulis, penerbit, dan propagandanis buku-buku sastra dan bukan sastra. Di Malaysia, penulis mencabul-cabulkan karyanya adalah adalah penulis pria. Di Indonesia, penulis yang asyik menulis wilayah ‘selangkangan dan sekitarnya’ mayoritas perempuan. Taufiq mengungkapkan ada kritikus Malaysia berkata jika pengarang Indonesia berani-berani dan tidak memiliki rasa malu.

Kelima, penerbit dan pengedar komik cabul. Keenam, produsen VCD/DVD porno. Ketujuh, pabrik alkohol. Kedelapan, produsen, pengedar, dan pengguna narkoba. Kesembilan, pabrikan, pengiklan, dan pengisap rokok. Menurutnya, hal ini dilatarbelakangi kenyataan dalam masyarakat permisif, interaksi antara seks, narkoba, dan nikotin akrab sekali.

Kesepuluh, para pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Kesebelas, germo dan pelanggan prostitusi. Keduabelas, dukun dan dokter praktisi aborsi. Taufiq mengatakan: “Bayangkan data menunjukkan angka aborsi di Indonesia mencapai 2,2 juta setahun. Maknanya, setiap 15 detik seseorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal di suatu tempat akibat dari salah satu atau gabungan faktor-faktor di atas.”

Masih menurut Taufiq, hilangnya rasa malu itu kemudian tercermin dalam gemuruh-gelombang penolakan RUU Pornografi dan Pornoaksi. Pihak ini yang kemudian disebut Taufiq Ismail sebagai pihak ketigabelas. Pada satu sisi memang masih ada kekurangannya. Salah satu kekurangan RUU ini yang perlu ditambah dan disempurnakan adalah perlindungan terhadap 60 juta anak-anak Indonesia. Di Amerika Serikat, anak-anak di sana dilindungi (paling tidak) dengan enam undang-undang, adapun di Indonesia masih nol.

Setelah pidato kebudayaan yang penuh makna itu, acara penghargaan kepada tiga orang yang berkiprah dalam seni dan humaniora dimulai. Para penerima penghargaan itu adalah Amir Pasaribu (bidang seni kreatif musik), Soejono R. P. (bidang arkeologi), dan Tengku Nasyaruddin S. Effendi (bidang kajian sastra). Terlepas dari kontroversi pemenang seperti yang terjadi di AMI Awards dan FFI, Akademi Jakarta Awards tampak begitu tenang, setenang ketidaktahuan banyak orang akan acara ini. Para juri di acara Akademi Jakarta Awards adalah Syu`bah Asa dan kawan-kawan. Menurut Syu`bah, penghargaan ini untuk karya-karya besar dan tanpa malam seperti ini mereka kurang terkenal.

Aku jadi berpikir sejenak, jika memang musik dan film adalah bagian dari seni, AMI dan FFI telah menjadi raksasa. Adapun Akademi Jakarta yang notabene sesepuh dari seni tampaknya mulai terlupakan oleh publik.

Mengulang kembali tentang pelaku keempat Gerakan Syahwat Merdeka, yaitu penulis, penerbit, dan propagandanis buku-buku sastra dan bukan sastra; aku jadi teringat beberapa novel yang telah aku baca. Ternyata pikiranku selama ini tidak salah, karena novelnya sendiri itu yang salah. Menurut N. H. Dini, dirinya sampai tidak kuat membaca sebuah novel yang pernah mendapatkan penghargaan karya sastra. Dia bertanya mengapa novel tersebut dapat penghargaan karena tidak ada bagusnya sama sekali.

Memang, banyak karya sastra yang sangat populer tetapi tidak syarat makna dan mutu. Erotisme dan pornografi dianggap karya seni, penulis pun kehabisan ide untuk mengeksplorasi realitas luhur rakyat bernurani. Malu rasanya jika harus membandingkannya dengan karya Pramoedya Ananta Toer atau Ahmad Tohari. Sastra bukanlah hanya rangkaian kata-kata indah, tetapi lebih kepada pengungkapan nilai-nilai moral dan nurani yang tinggi.


4 comments:

Awan Diga Aristo said...

kalau maksudnya adalah kata lain dari "penuh", nulisnya bukan "syarat", tapi "sarat". misalnya: "sarat makna", atau "sarat hikmah".

kalau "syarat" itu maksudnya "prakondisi" atau "requirements" (dlm bhs inggris) kan?

o iya, perkara karya sastra dari para novelis wanita indonesia sekarang ini, ada baiknya baca bukunya...mmm... siapa ya namanya?? Kathrine Bindel gitu? ya orang jerman lah pokoknya.
judulnya...mmm... apa ya?? kalo ga salah "seks dan sastra". ato kira2 gitulah.

sangat menarik menyimak kritik2nya terhadap sastra indonesia kontemporer.

Lucky said...

kak galuh...kak galuh...(hehehehe).
punya pidato lengkapnya engga? kalo punya saya minta dong...kalo bisa kirim ke email ya....lucky_luqman@yahoo.com
(cari dimana2 kagak ada)

Rachmawati said...

another narrative story...
Feel like I was in the place.

pupuk organik said...

http://Renown:s37ybp@members.privatepornpass.com/members/