Thursday, February 08, 2007

Bandung, Jumat 13 Oktober 2005, Jam 20.00 WIB Keatas

Malam itu, tepatnya malam sabtu, tampak bersahabat. Bintang pun tidak malu-malu untuk tersenyum apalagi bersinar. Kususuri jalan kopo Soreang yang biasanya di siang hari ramai dan macet, sekarang tampak sangat lengang dan kondusif. Hanya tampak lelampuan perumahan dan toko yang saling bercengkrama dengan redupnya lampu jalan. Aaah... ternyata Soreang tidak semuram di siang hari. Jalan yang sepi ini membuat perjalanan enggan untuk melewati Jalan Tol Kopo sehingga setelah sekian menit kutempuh, kutemui kenangan pusat Kota Bandung tempo dulu. Yah, apalagi kalau bukan kawasan alun-alun yang sekarang tampak berbeda. Siapa pun tahu, bila BIP (Bandung Indah Plaza) merupakan trigger bagi tumbuhkembangnya mall-mall di Kota Bandung seperti BEC, Istana Plaza, Planet Dago, dll sampe Ciwalk yang kesohor itu (meskipun aku sendiri belum pernah kesana meskipun untuk sekedar bersilaturahmi). Ingat perkataan seorang penduduk Cihampelas belum lama ini: "Ciwalk itu dulu kebon yang ada pabrik makanannya yang digunakan juga untuk makanan waktu perang...".

Semua pasti tahu, dengan tumbuhkembangnya mall-mall baru dengan BIP sebagai inisiatornya, kawasan alun-alun tidak mempunyai identitas lagi. Yang ada hanyalah keindahan kenangan masa lalunya saja.

Tepat di depanku, kulihat Masjid Agung yang telah banyak mengalami perubahan sehingga sekiranya Kota Bandung tidak mempunyai lagi apa yang disebut alun-alun. Heran, jendela mobilku terbuka, tapi tidak kudengar suaru gema ibadah shalat tarawih. Apa mungkin pikiranku melayang sehingga pendengaranku tersihir oleh indahnya kawasan alun-alun yang sepi dan tenang di malam hari. Yah, malam itu tampaknya kebanyakan penduduk sedang asyik beribadah di masjid maupun di rumah. Sedangkan aku, aku coba untuk beribadah yang lain dengan menikmati malam di kota lama.

Tidak jauh dari situ kutemui dan kususuri Jalan Banceuy kemudian ABC, Kebon Kawung, Dewi Sartika, dan jalan-jalan legendaris lainnya yang seringkali digosipkan oleh mahasiswa kita (Planologi), entah untuk belanja atau sekedar menjadi objekan mata kuliah seperti studio, rangkot, dsb.

Mengingat kawasan Dewi Sartika, membuka kenangan lamaku bersama teman-temanku di Rancang Kota (inget tidak friends =p ?). Di saat survey Rancang Kota dulu, hujanlah yang menyambut kita. Ah, cuman hujan air, paling basah saja. Sesi potret-potret dan hitung bangunan tampaknya jadi sesi utama kami. Kegiatan kami ditutup dengan sesi manaiki menara masjid agung yang mencapai puluhan lantai dan menakjubkan! dari menara itu hamparan Bandung sebagai daerah cekungan tampak begitu jelas dan mempesona. Bilamana, mungkin, Kota Bandung ditimpa cobaan, sungguh mudah untuk merendamnya dengan sekali guyur.

Ah, sudah cukup kenangan rangkot. Hmm... sekarang sampai Braga, jalan yang mempunyai nilai historis sangat tinggi dan sampai sekarang masih dilestarikan. Dahulu, jalan ini hanya boleh dipakai untuk pertokoaan kelontong. Sekarang, entahlah, aku menengok kekiri sudah tampak calon bangunan menjulang. Sepertinya calon apartemen nih. Seputar Braga sekarang pun tampaknya sekarang sudah dipenuhi dengan tempat-tampat hiburan sesaat yang "pufh" seringkali melenakan kita. Mengingat Braga berarti mengingat bahwa tempat ini pernah dipakai syuting video clip anak muda Jerman, yah kira-kira 5 tahun yang lalu. Entah sekarang si gondrong ini kemana tapi baunya sekarang sudah tidak ada sampai nama si artis ini pun sudah aku lupakan. Oia, Gill namanya.

Wastukencana, jalan dengan gaya transisi guna lahan kuno-modern, merupakan perpaduan sempurna atau istilah kerennya jembatan antara kota lama dengan kota baru. Sudah tampak gedung bank yang menjulang tinggi di samping jembatan. Di daerah ini (dari stasiun lama) aku pernah dikejar preman atau WTS ya =( jam 23an WIB. Memang dulu kereta dari Jakartanya baru sampai jam 23 dan aku iseng untuk melihat stasiun lama yang ternyata sudah ada "penunggunya".

Tugu sister city menandakan akan berakhirnya perjalanan di Wastu Kencana. Kumasuki Jalan Purnawarman, yang mencerminkan daerah transisi yang menawan dengan perumahan yang teratur dimadu oleh sang pepohonan rindang. Bangunan-bangunnya tampak bersih dan serasi dan juga tua; seperti asrama Sumatera Selatan yang tampaknya cocok menjadi lokasi uji nyali. Sebelah kanan tampak Holidy Inn yang menjulang angkuh meskipun tampak punggungnya saja.

Tidak terasa, sudah sampai Jalan Taman Sari yang senantiasa berubah. Di pojok sudah menanti BAA dengan segala keribetan administrasinya, di depan ada si jalan layang yang harusnya sejak era 80-an dibangun tapi selalu mengalami kendala politis dan keuangan.

Ah ah silau, di pojok sana ada Jalan Pelesiran yang malu-malu untuk menghadap si Badak Singa. Itulah lokasi kosku yang mencerminkan kegagalan tata ruang; dengan air tanah yang sudah tercampur air comberan.

Sebuah Kenangan- Saat Orang-Orang Sedang Shalat Tarawih

5 comments:

Trian Hendro A. said...

hmm, sebuah memoar bersahaja ya pak..

*mulai nulis lagi nih.. :)

agung said...

Melangkahlah di bumi-Nya, niscaya kan kautemukan tanda-tanda cinta-Nya dan bekas-bekas kedurhakaan kita..
Terlebih di bumi Indonesia..

-yang sedang jatuh cinta untuk kesekian kalinya dengan Ibu Pertiwi

Dedy W Hamidy said...

kayaknya pernah baca deh... pernah diterbitin di milis ya? iya ga sih? ata de javu saya ajah??

Galuh S Indraprahasta said...

ya, pernah diterbitin di milis

Rachmawati said...

bagus...
kok jadi terkesan romantis gitu ya kota Bandung nya, ngalahin eiffel tour :P