Sunday, January 21, 2007

Berhenti Sejenak

Karena berbagai kepenatan yang timbul, saya berhenti sejenak dari dunia tulis menulis dan blog ini juga. Lagi pengen sendiri. Ga tahu kapan bisa muncul lagi. Moga secepatnya

Wednesday, January 10, 2007

Nasi Tim, Potong Rambut, dan Resolusi 2007

Apa hubungan antara nasi tim dengan potong rambut dan resolusi 2007. Ada! Meski terkesan dibuat-buat, tapi bagi saya hubungannya nyata.

Ceritanya begini..

Jumat itu tanggal 5 Januari 2007, saya bersama 4 (empat) rekan dari Manajemen Bisnis IPB hendak menghadiri acara welcoming dinner di Hotel Alia Cikini (depan Taman Ismail Marzuki). Pagi harinya, kami ribut-ribut membahas sebuah permasalahan dan sebagainya sampai saat jumatan. Dikarenakan sampai hotel harus jam 18.00 WIB maka kami memutuskan untuk keluar dari Bogor maksimal jam 14.30, mengingat hari Jumat dan kemungkinan macet di Jakarta pada jam-jam sibuk sangat besar.

Sebenarnya di kampus ada kantin yang biasa dijamahi para mahasiswa. Tetapi karena pengalaman kurang menyenangkan yang menimpa saya di kantin tersebut menyangkut masalah kecocokan harga, akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di luar sebelum keluar Bogor. Akhirnya dipilih sebuah tempat makan yang kata teman-teman menjadi tempat kongkow yang biasa dikunjungi. Melihat menu dan kecocokan harga, akhirnya saya memilih nasi tim.

Sebenarnya bukan karena harganya saja yang relatif paling murah, tapi setahu saya, inilah pertama kali dalam hidup, saya memakan nasi tim. Mungkin terdengar berlebihan, hanya seinget saya seperti itu. Jikalau saya lupa, mungkin ini yang kedua atau ketiga kalinya sejak TK, mungkin. Saya sudah tidak ingat betul. Yang pasti, menu nasional ini masih asing di lidah saya. Sebagai catatan, seumur-umur, saya makan makanan nasional yang normal dari tempe, tahu, sampai nasi kelapa garam. Jadi memang sedikit keterlaluan jika nasi tim terlewatkan.

Karena tempat makannya kecil, jarak antarmeja juga sempit. Pada sebuah momen tertentu, ada seorang cewek nyeletuk: ”Maaf mbak permisi”. Bukan pada kalimatnya saya merasa tidak enak, tetapi karena kalimat itu saya pikir ditujukan kepada saya karena duduk saya memang menghalangi dia untuk duduk. So, ada yang salah dengan penglihatan orang jika melihat saya dari belakang. Ya! Rambut sudang panjang, kayak cewek saja. Dikuncir juga bisa.

Saya pikir, saya belum mempunyai resolusi konkrit untuk tahun 2007. Akhirnya saya putuskan, potong rambut sebagai resolusi konkrit pertama di tahun 2007. Tempat potong? Biasa, langganan di Pasar Bogor.

Akhirnya nasi tim datang. Bentuknya yang coklat mengkilap ditambah kuah dan pangsit goreng membuat selera makan bertambah. Untuk minuman? Biasa, teh tawar tanpa gula. Kata para ahli kesehatan, dengan meminum teh tanpa gula 2x sehari dapat mengurangi resiko terkena penyakit jantung sebesar 67%. Akhirnya kebiasaan ini saya rutinkan sejak september lalu.

Rasa nasi tim-nya? Mengambil istilah Pak Bondan: ”Mak nyus, rasanya nendang”. Ini to yang dinamakan nasi tim. Akhirnya saya terbebas dari kata kuper menyangkut masalah ini. Baru setelah acara makan beres, kami berangkat ke Jakarta.

Bismillah, dengan kecepatan ala jalan tol sisi paling kanan akhirnya sampai juga ke Jakarta dan keluar dari pintu Cempaka Mas. Belum keluar betul dari jalan tol, ternyata kemacetan sudah terjadi, persis seperti yang diduga. Akhirnya sampai juga ke hotel jam 16.00 WIB dan langsung mencari tempat shalat. Ternyata di hotel tidak ada mushala, tetapi masjid. Hotel yang mungil lucu ini ternyata mempunyai masjid di lantai 1. Disebut masjid karena luasnya relatif besar dan biasa digunakan untuk shalat jumat.

Sembari menunggu jam 18.00 datang, kami berlima menyeberang jalan untuk melihat-lihat TIM sambil potret-potret. Keluar semua gaya di sana. Biasanya di TIM ada pertunjukkan di dalam, tetapi sayang kami telat sekian menit dari jam 16.30. Akhirnya kami hanya keliling, keliling, dan keliling. Karena salah satu rekan merasa penat, kami putuskan untuk kembali ke hotel yang berudara lebih sejuk.

Ternyata di sana sudah ada para pesaing kami dari ITB, UI, dan Prasetya Mulya BS. Seharusnya masih ada lagi tim dari Unair, dan UGM yang mungkin masih pada mendekam di kamar. Tidak lama kemudian, tim IPB lainnya berdatangan. Habis itu teman saya nyeletuk: ”Gara-gara loe berdua wajah tim kita jadi tua”. Kalimat ini ditujukan pada saya dan rekan saya satunya. Tampaknya resolusi 2007 perlu segera dikonkritkan besok sabtu. Hal ini ditambah dengan salah satu anak Prasetya Mulya BS: ”Tampang anak IPB pintar-pintar”, dengan melirik pada saya. Iya, dasar gondrong, kusut, kayak profesor kutu buku saja, gumam saya. Oia kelupaan, saya juga bertemu saingan dari ITB dan kami saling berkenal-kenalan. Sebagai bekas almamater, basa-basinya cukup panjang. Bukan basa-basi sebenarnya tetapi lebih kepada in memorian.

Acara memang dimulai pukul 18.00 WIB kurang, tentunya ada break shalat magrib. Cerita belum berhenti, karena ternyata kami disuguhi kue yang menurut saya, seumur-umur inilah kue mungil terenak yang pernah saya makan. Oalah, dasar anak desa, ga tahu kue-kue gituan. Rasanya memang enak, pas coklatnya, pas rasanya. Setelah sang project leader-nya berbusa-busa nerangin teknis lomba hari minggunya, kami dipersilakan makan malam. Karena saya harus ke depan, maka pengambilan makanan saya serahkan ke teman (mengantisipasi habisnya makanan oleh serbuan makhluk-makhluk kelaparan). Begitu urusan di depan beres, saya menyusul ke tempat makan. Teman saya yang telah berbaik hati mengambil makanan tenyata mengambil porsi yang sangat besar. Ketika duduk, saya menyeletuk sama dia: ”Nik, ngambilnya banyak sekali. Badan saya memang besar, tapi makan saya ga banyak, malah sama kayak kamu yang cewek dan kurus”. Alhamdulillah habis juga ayam dua potong ditambah nasi dua gunung dan berbagai aksesoris lainnya.

Selepas shalat isya, kami akhirnya meninggalkan hotel pukul 10 malam.

Cerita selesai...

Pojok Jadebotabek

Friday, January 05, 2007

Aaah.....Sudah 2007

Jujur saja saya bingung. Lah wong ganti tahun kok sampai kayak menang perang saja. Semua orang tumpah ruah membuat semutan manusia.

Habis itu apa? Nihil. Panas-panas tahi ayam, paling-paling bingung lagi.

Umur tambah pendek malah senang, beda angka saja malah ribut. Cuma ganti 6 ke 7. Pun umur yang sudah disediakan oleh Allah menjadi berkurang lagi.

Semua butuh momentum dan momentum butuh aksi dan aksi butuh reaksi. Di dunia dengan 5 pulau besar ini, momentum bukan berasal dari hukum fisika tetapi dari filisofi entah filosofi kopi atau yang lainnya.Yang pasti, momentum 2007 butuh aksi dan reaksi menuju perubahan yang lebih baik.

Filosofi menjadi usang jika hanya berkutat di wacana. Terlalu banyak pengamat, terlalu banyak pahlawan mulut. Pada akhirnya, saya juga tidak mau terlarut dalam wacana filosofis tanpa solusi.

Negara ini patut bangga pada Nelson Tansu, Tri Mumpuni, Hidayat Nur Wahid, I Gede Winarsa, Andri Wongso, dan semua orang konkrit Indonesia yang berkeliaran di jagat ''The Earth''.

Untuk semua yang telah rela meluangkan waktunya membaca tulisan ini:
SELAMAT TAHUN BARU MAHESI 2007

Monday, January 01, 2007

Gerakan Syahwat Merdeka

Sore ini, seperti biasa, Jakarta menyengat panas. Wajah-wajah kuyu para pekerja menambah rautan panasnya Ibukota Indonesia. Tanah yang kata banyak orang kampung adalah syurga pekerjaan. Nyatanya tentu berbeda; bagi yang bermodal nekat, Jakarta bukanlah seorang sahabat karib.

Sore ini adalah hari Rabu tanggal 20 Desember 2006. Bagi sebagian orang, tampaknya hari ini bukan hari yang spesial. Bagi sebagian orang lainnya, hari ini adalah hari yang spesial karena hari dilangsungkannya Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2006 di Balai Sidang Jakarta. Bagi aku, hari ini spesial, tetapi bukan karena AMI Awards. Ada satu acara lagi yang hilang dari hingar-bingar publik, yaitu Akademi Jakarta Awards yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini Raya, Jakarta Pusat.

Untuk itu, selepas magrib, aku memasuki Taman Ismail Marzuki untuk melihat Akademi Jakarta Awards, penghargaan bagi para seniman. Ruangannya begitu dingin, tidak seperti udara Jakarta yang sangat menyengat. Kulihat di beberapa sudut tempat duduk beberapa tokoh nasional seperti Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah), Slamet Abdul Syukur (pemusik kontemporer), dan masih banyak lagi yang aku sendiri tidak kenal termasuk para wartawan harian nasional seperti Republika dan Tempo. Memang tidak ada wajah-wajah artis yang selama ini menjadi idola publik. Barang kali, teman-teman ini sedang bersilaturahmi ke AMI Awards untuk bersiap menerima penghargaan atau hanya sekedar menonton.

Sebelum acara penghargaan dimulai, Taufiq Ismail, sang maestro, berkesempatan untuk menyampaikan pidato kebudayaan. Sesuatu yang aku sangat tunggu dari manusia yang mempunyai integritas ini. Tidak seperti kuliah yang membuatku terbiasa mencatat dengan pena, aku cukup menyimaknya dan mencatatnya dalam hati. Kulirik kanan-kiri, tampaknya beberapa orang sudah tampak keasyikan dengan udara dingin ruangan.

Beginilah kiranya isi pidato Taufiq Ismail yang syarat makna namun minim publikasi. “Indonesia dikepung Gerakan Syahwat Merdeka. Gerakan Syahwat Merdeka ini tidak bersosok organisasi resmi, dan jelas tidak berdiri sendiri. Tetapi, bekerja bahu-membahu melalaui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya. Ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media massa cetak dan elektronik menjadi pengeras suaranya.”

Sesaat setelah itu, ruangan teater (Teater Kecil TIM) terdiam. Banyak orang tersentak, bahkan ada yang mengambil buku catatan kecil untuk mencatat pidato sang maestro. Ada juga yang bergumam panjang. Tapi, pidato ini belum selesai. Taufiq Ismail kemudian meneruskan pidatonya dengan menjelaskan siapa saja yang menjadi komponen syahwat merdeka tersebut. Setidaknya ada 13 pihak yang mendukung fanatik gerakan ini.

Yang pertama adalah praktisi yang sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Kedua, para penerbit majalah dan tabloid mesum yang telah menikmati tiada perlunya SIUPP. Ketiga, produser, penulis skrip, dan pengiklanan televisi. Taufiq Ismail mengatakan: “Semua orang tahu betapa ekstensifnya pengaruh layar kaca. Tayangan televisi rata-rata ditonton oleh 170 juta pemirsa. Untuk situs porno kini tersedia 4,2 juta di dunia dan 100 ribu di layar internet Indonesia. Untuk mengaksesnya malah tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari Fransisco sampai maupun Klaten (kasus adegan mesum yang dilakukan oleh oknum PNS Klaten-red.).”

Keempat, penulis, penerbit, dan propagandanis buku-buku sastra dan bukan sastra. Di Malaysia, penulis mencabul-cabulkan karyanya adalah adalah penulis pria. Di Indonesia, penulis yang asyik menulis wilayah ‘selangkangan dan sekitarnya’ mayoritas perempuan. Taufiq mengungkapkan ada kritikus Malaysia berkata jika pengarang Indonesia berani-berani dan tidak memiliki rasa malu.

Kelima, penerbit dan pengedar komik cabul. Keenam, produsen VCD/DVD porno. Ketujuh, pabrik alkohol. Kedelapan, produsen, pengedar, dan pengguna narkoba. Kesembilan, pabrikan, pengiklan, dan pengisap rokok. Menurutnya, hal ini dilatarbelakangi kenyataan dalam masyarakat permisif, interaksi antara seks, narkoba, dan nikotin akrab sekali.

Kesepuluh, para pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Kesebelas, germo dan pelanggan prostitusi. Keduabelas, dukun dan dokter praktisi aborsi. Taufiq mengatakan: “Bayangkan data menunjukkan angka aborsi di Indonesia mencapai 2,2 juta setahun. Maknanya, setiap 15 detik seseorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal di suatu tempat akibat dari salah satu atau gabungan faktor-faktor di atas.”

Masih menurut Taufiq, hilangnya rasa malu itu kemudian tercermin dalam gemuruh-gelombang penolakan RUU Pornografi dan Pornoaksi. Pihak ini yang kemudian disebut Taufiq Ismail sebagai pihak ketigabelas. Pada satu sisi memang masih ada kekurangannya. Salah satu kekurangan RUU ini yang perlu ditambah dan disempurnakan adalah perlindungan terhadap 60 juta anak-anak Indonesia. Di Amerika Serikat, anak-anak di sana dilindungi (paling tidak) dengan enam undang-undang, adapun di Indonesia masih nol.

Setelah pidato kebudayaan yang penuh makna itu, acara penghargaan kepada tiga orang yang berkiprah dalam seni dan humaniora dimulai. Para penerima penghargaan itu adalah Amir Pasaribu (bidang seni kreatif musik), Soejono R. P. (bidang arkeologi), dan Tengku Nasyaruddin S. Effendi (bidang kajian sastra). Terlepas dari kontroversi pemenang seperti yang terjadi di AMI Awards dan FFI, Akademi Jakarta Awards tampak begitu tenang, setenang ketidaktahuan banyak orang akan acara ini. Para juri di acara Akademi Jakarta Awards adalah Syu`bah Asa dan kawan-kawan. Menurut Syu`bah, penghargaan ini untuk karya-karya besar dan tanpa malam seperti ini mereka kurang terkenal.

Aku jadi berpikir sejenak, jika memang musik dan film adalah bagian dari seni, AMI dan FFI telah menjadi raksasa. Adapun Akademi Jakarta yang notabene sesepuh dari seni tampaknya mulai terlupakan oleh publik.

Mengulang kembali tentang pelaku keempat Gerakan Syahwat Merdeka, yaitu penulis, penerbit, dan propagandanis buku-buku sastra dan bukan sastra; aku jadi teringat beberapa novel yang telah aku baca. Ternyata pikiranku selama ini tidak salah, karena novelnya sendiri itu yang salah. Menurut N. H. Dini, dirinya sampai tidak kuat membaca sebuah novel yang pernah mendapatkan penghargaan karya sastra. Dia bertanya mengapa novel tersebut dapat penghargaan karena tidak ada bagusnya sama sekali.

Memang, banyak karya sastra yang sangat populer tetapi tidak syarat makna dan mutu. Erotisme dan pornografi dianggap karya seni, penulis pun kehabisan ide untuk mengeksplorasi realitas luhur rakyat bernurani. Malu rasanya jika harus membandingkannya dengan karya Pramoedya Ananta Toer atau Ahmad Tohari. Sastra bukanlah hanya rangkaian kata-kata indah, tetapi lebih kepada pengungkapan nilai-nilai moral dan nurani yang tinggi.


Saturday, December 23, 2006

Pada Umumnya Manusia Memang Cenderung Egois (Multi-Fragmen)

Siang itu, seperti biasa aktivitas penduduk berjalan normal, apalagi jam-jam sibuk seperti ini. Kendaraan beserta orang hilir mudik bergantian menampilkan potret kehidupan masyarakat kota yang tidak ada hentinya. Masyarakat yang katanya sangat sibuk, sangat pusing, dan sangat-sangat lainnya. Kebetulan pada hari itu, hari dimana manusia sedang hilir mudik, aku menjalankan rutinitasku untuk menjamah tempat-tempat terindah: kampus, kantor, dan sebagainya. Tentunya, angkot menjadi salah satu kendaraan yang selalu menungguku; atau mungkin juga sebaliknya, akulah yang menunggu angkot.

Penuh, pikirku seketika angkot itu menepi karena aku menyetopnya.

“Ya, kirinya digeser, bisa satu lagi”, kata si sopir seolah mengerti perasaanku.

Tidak ada yang bergeser. Semua penumpang diam seperti ada lem di bangkunya. Jika ada yang bergeser, itu adalah kedua bolah matanya yang secara spontan melihat sebuah ruang kosong tepat di pojok belakang angkot.

Alhamdulillah, aku bukan manusia cacat, aku pun masih muda. Berjalan berbungkuk sebentar sambil bergumul dengan lutut para penumpang menuju ruang kosong di pojok belakang itu bukan perkara sulit bagiku.

*************

Seminar, hari itu ada seminar di kampus. Seperti biasa, sebagai tempat ilmiah, kampus menampilkan kegiatan-kegiatan ilmiah di luar kuliah dan segala macam tetek-bengek praktikum. Tampaknya, tema seminarnya sangat menarik sehingga banyak orang yang hadir; kebanyakan mahasiswa. Setelah berbusa-busa memaparkan presentasinya, para pembicara seminar bersiap-siap menerima rentetan pertanyaan. Dimulai dengan termin pertama yang terdiri dari 3 pènanya. Pènanya pertamapun maju ke mikrofon terdekat dan dengan semangat berkata:

“Pak, melihat paparan Bapak saya merasa diingatkan tentang tulisan saya tentang manfaat energi alternatif. Dulu saya juga bersama teman-teman suka mengadakan diskusi rutin.”

“Hmmm, kalau yang saya tahu, pemanfaatan energi alternatif di Indonesia itu baru mau digalakkan dan dengar-dengar Cina dan Jepang sudah siap bekerja sama.”

“Tetapi saya seringkali merasa trenyuh karena lingkungan di sekitar rumah saya kurang bisa memanfaatkan sampah. Padahal kalau diolah dengan baik, sampah pun bisa menjadi energi alternatif. Jadi sebenarnya pemerintah juga harus membangun kesadaran masyarakatnya selain kerja sama dengan negara lain.”

“Oia, saya penggemar bapak lho, dan tadi saya sangat kagum dengan presentasinya. Karena itu, saya rela bolos kuliah. Sekian saja Pak, makasih.”

“Dik dik, namanya siapa? Pertanyaannya apa?”, ujar sang MC yang ada di depan hadirin.

“Oo, eh iya ya. Nama saya Sandi dari Matematika. Pertanyaannya, hmmm....apa pendapat Bapak tentang peluang pengembangan energi alternatif di Indonesia.”, sahut si pènanya dengan lèmpèngnya.

Tampaknya si pènanya berbicara pada dirinya sendiri sehingga ia lupa akan esensi bertanya bahkan content pertanyaannya.

*************

Di ruang rapat yang ber-AC. Meskipun ber-AC tampaknya udara Jakarta yang sudah sesak dan panas ditambah kemarahan para knalpot kendaraan memberikan efek buruk pada ruang rapat ber-AC di sore hari. Meski sudah diisi dengan nasi, tetap saja, suasana pasca siang dan keiinginan untuk segera pulang semakin membuat ruangan bertambah panas. Kebetulan bosku ada rapat penting dengan gubernur dari Sumatera dan sekali lagi aku ditugaskan sebagai asisten sorot*. Hari ini topiknya koordinasi dan pembangunan wilayah pesisir di Sumatera. Satu per satu gubernur menampilkan presentasi wilayahnya. Entah hanya ada dalam pikiranku atau memang hanya halusinasiku, tampaknya para gubernur hanya berkonsentrasi saat presentasinya saja; adapun, saat mendengarkan presentasi lainnya seperti menahan rasa kantuk yang sangat.

“Dik, tolong gambar yang tadi ditampilkan kembali. Bukan, bukan yang itu, itu loh yang ada gambar Pulau Karimun Kepulauan Riau. Ya, yang itu.”, seorang asisten gubernur memintaku untuk mencari-cari gambar yang sesuai.

Akhirnya rapat ini selesai, dan tampaknya memang tidak ada yang mencatat. Tiba-tiba seperti pemboman Hiroshima dan Nagasaki dengan sekonyong-konyong para asisten gubernur menyodorkan flashdisk kepadaku.

“Dik, tolong ya kopikan file-file presentasi tadi biar bisa dipelajari sama kami.”, ujar salah seorang asisten gubernur.

Satu per satu aku masukkan file-file presentasi tadi ke dalam flashdisk.

“Maaf pak, flashdisk Bapak penuh. Tampaknya ada yang perlu dihapus”, ujarku pada salah seorang asisten gubernur.

“Wah, ga bisa ada yang dihapus. Ya sudah, ga apa-apa, seadanya saja”, sahut si asisten tanpa wajah menyesal.

Aku kembali ke ruangan dan di sana masih ada seorang office boy, Maman namanya.

“Pak, ini minumannya, Bapak kelihatan sangat lelah”, ujar Pak Maman seraya menyodorkan segelas air putih padaku.

“Makasih pak, Bapak belum pulang?”, tanyaku padanya

“Belum, menunggu Bapak rapat.”, jawabnya dengan santun

“Makasih ya Pak, maaf merepotkan. Bapak pulang saja duluan, saya mau shalat asar dahulu dan masih ada beberapa hal yang harus saya bereskan”, sahutku menimpali.

Hufff, lelah. Hmm, tapi ternyata masih ada orang yang tidak egois.

*************

Makan malam yang nikmat meskipun tampaknya sudah dimasak empat jam yang lalu. Seperti biasa aku makan malam di rumah dan seperti biasa sampai rumah saat kebanyakan orang sudah mulai tertidur.

“Aaaa, ajarin Ade PR Bahasa Inggris ya. Ade ga ngerti nih. PR nya sulit. Bisa ya ntar habis makan”, pinta adikku.

“De, Aa capek, bisa kerjain sendiri ya”, jawabku sèkènanya

Ternyata aku pun manusia yang egois.

*asisten sorot: bertugas mengoperasikan laptop dan LCD dalam rapat khususnya saat presentasi

Pojok Jabodetabek

Indonesia dan Qatar


Apa hubungan Indonesia dengan Qatar? Tidak ada hubungan yang sangat-sangat erat antarkeduanya se-erat panasnya Indonesia-Israel atau se-erat hubungan ‘kawin kontrak’ Indonesia-Amerika Serikat.

Sejenak jika menengok balik pada Piala Asia (sepakbola) tahun 2004, tim nasional Indonesia yang saat itu dilatih oleh Ivan Venkov Kolev menghempaskan tim nasional Qatar 2-1 lewat gol yang dilesakkan oleh Budi Sudarsono dan Ponaryo Astaman. Asia tersentak, karena pada waktu itu Qatar diunggulkan dan pelatih mereka adalah seorang yang sudah mempunyai nama besar, Philippe Trousier si Dukun Putih dari Perancis. Saat itu juga, Philippe Troussier mundur karena kekalahan yang sangat memalukan. Kamp pelatihan timnas Indonesia yang tadinya sepi wartawan, sontak menjadi rebutan para kuli tinta. Pertanyaan pun mengalir seputar pertandingan berikutnya (melawan Cina dan Bahrain). Cina pun sempat dibuat angkat bicara tentang timnas Indonesia pasca kemenangan yang mengguncang tersebut. Begini kata sang Negeri Tirai Bambu: “kami pikir tim nasional Indonesia sudah mengalami kemajuan dibandingkan saat kami terakhir melawannya (di Pra-Piala Dunia 2002) dan kami patut waspada”. Pujian yang luar biasa mengingat prestasi persepakbolaan Cina di Asia selama ini.

Tetapi fakta berbicara lain, Indonesia tetap seperti orang yang baru belajar main bola di hadapan pemain Cina, bukan karena skill individunya yang terlampau jauh tetapi lebih kepada gap mental antarkedua tim yang sangat mencolok. Di awal pertandingan, kedua tim berimbang. Mental, inilah yang kemudian menjadi permasalahan utama. Bukan hanya mental saat pertandingan, tetapi juga mental untuk menjadi lebih baik lagi.

Salah satu omongan yang membuktikan bahwa timnas Indonesia tidak mempunyai mental kemenangan adalah ucapan Bambang Pamungkas (striker timnas saat itu). Seorang wartawan tabloid olahraga menanyakan kepada Bambang perihal jadwal pernikahannya yang jatuh tepat pada hari digelarnya final Piala Asia 2004. Kata Bambang: “Saya memilih hari pernikahan tepat di hari diselenggarkannya final Piala Asia karena saya tahu Indonesia tidak mungkin lolos ke final Piala Asia”.

Maaf, jangan berbicara kemenangan jika niat kesana pun tidak ada. Pada akhirnya memang Indonesia tidak ‘jadi’ lolos ke babak berikutnya.

Berbicara pada isyu paling aktual tentang Qatar tentunya berbicara tentang Asian Games Doha (Qatar) 2006 yang baru saja ditutup. Acara yang menurut kalangan menampilkan opening terbaik, lebih baik dari Olimpiade Sydney yang lalu.

Berbeda dengan pertandingan sepakbola Indonesia-Qatar yang berakhir 2-1, Indonesia-Qatar jilid II berakhir dengan skor 22 alias Indonesia bercokol di peringkat 22. Tidak ada sentakan publik yang muncul selain nada-nada sumbang.

Dibandingkan dengan sahabatnya di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) Indonesia berada di peringkat ke-6 di bawah Thailand (5), Malaysia (11), Singapura (12), Filipina (18), dan Vietnam (19). Sangat ironis memang jika melihat hegemoni olah raga Indonesia di ASEAN yang hampir selalu (kecuali pada 8 tahun terakhir) menjadi maha raja diraja bersama Thailand.

Indonesia sudah menjadi negara terkorup ke-4 di dunia, apakah Indonesia juga menjadi negara yang paling tidak sehat (jasmaniah) berkaca pada prestasi olah raganya. Kata Farid Poniman dkk dari Kubik Training & Consultancy (dalam bukunya Kubik Leadership), manusia itu membutuhkan 3 (tiga) tingkat kerja, yakni: kerja keras, cerdas, dan ikhlas. Kerja keras harus dilakukan terlebih dahulu sebelum kerja cerdas dan ikhlas. Kerja keras adalah bentuk usaha yang terarah dalam mendapatkan sebuah hasil, dengan menggunakan energinya sendiri sebagai input (modal kerja). Salah satu syarat kerja keras adalah jasmani yang sehat, dan pada saat ini prestasi olah raga Indonesia tidak mencerminkan itu. Bahayanya, tidak optimalnya kerja keras akan mengakibatkan ketidakoptimalan 2 (dua) kerja berikutnya.

Kerja cerdas sendiri didefinisikan sebagai bentuk usaha terarah dalam mendapatkan sebuah hasil dengan menggunakan mesin kecerdasan sebagai daya ungkit prestasinya. Kata Farid Poniman dkk, boleh jadi seseorang itu cerdas tetapi dia tidak bisa bekerja cerdas. Orang cerdas adalah orang yang salah satu belahan otaknya bekerja lebih baik dibandingkan dengan belahan otak yang sama pada kebanyakan orang. Sedangkan orang yang bekerja cerdas adalah yang mampu mempraktikan salah satu kecerdasannya dalam pekerjaan yang sedang ditangani sehingga menghasilkan kualitas kerja yang lebih baik. Dicontohkannya, kalau seseorang selalu membawa segudang alasan kegagalan, maka kecerdasannya dipakai untuk mencari-cari alasan yang sesuai, dan tidak dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan. Bagaimana dengan insan olah raga nasional? Tampaknya kecerdasannya terlalu banyak dipakai untuk mencari alasan-alasan yang sesuai. Jikapun introspeksi, introspeksi yang dilakukan hanya sesaat setelah kegagalan terjadi, setelah itu hilang bak ditelan bumi.

Adapun kerja ikhlas adalah bentuk usaha terarah dalam mendapatkan sebuah hasil dengan menggunakan kesucian hati sebagai manifestasi kemulian dirinya. Jangan dulu sekarang berbicara kerja ikhlas sebelum kedua kerja sebelumnya (kerja keras dan cerdas) dapat terwujudkan dengan baik. Secara singkat belum terwujudnya kerja ikhlas ini jika dibicarakan dalam konteks olah raga nasional adalah belum terwujudnya insan olah raga yang mengatakan: “Saya salah, saya siap bertanggung jawab dan akan berusaha untuk menjadi lebih baik”.

Berbicara budaya, budaya instan pun merambah ke dunia olah raga nasional. Sebelum adanya isyu impor pemain muda Brasil menjadi pemain tim nasional sepakbola Indonesia masa depan, pelatihan timnas U-23 di Belanda yang berlangsung selama 6 bulan pun disebut oleh Foppe De Haan (yang menjadi supervisor timnas Indonesia U-23 selama di Belanda dan Qatar) sebagai budaya instan. Ia menambahkan bahwa dengan target yang sama, De Haan melakukannya bersama timnas Belanda U-21 dan U-23 selama beberapa tahun, bukan 6 bulan.

Pada akhirnya memang, timnas Indonesia U-23 tidak lolos ke babak utama Asian Games Doha 2006 dan dalam babak penyisihan digebuk dengan angka telak kecuali oleh Singapura. Setelah 2 (dua) pertandingan awal yang mencengangkan itu, De Haan mengatakan bahwa wajah pemain timnas Indonesia U-23 tampak sangat gugup. Sekali lagi, mental pemain masih perlu diasah. Baik, inilah salah satu contoh cabang olah raga Indonesia yang belum berprestasi di Asian Games kali ini.

Seperti diketahui bersama, keberangkatan timnas sepakbola Indonesia U-23 menimbulkan pro dan kontra terutama masalah perbedaan kutub antara biaya yang dikeluarkan dan prestasi yang dihasilkan.

Menarik menyimak pernyataan Menegpora Adhyaksa Dault yang menyatakan perlu dibuatnya sistem pembinaan olah raga yang sistematis dan perlunya pengurangan ‘fanatisme’ pembinaan berlebihan pada sepak bola di daerah. Seperti diketahui sepakbola di daerah selama ini menguras APBD dan tentunya menghasilkan trade-off pada pembinaan olah raga potensial lainnya di daerah. Olah raga lainnya perlu mendapatkan tempat lebih wajar sehingga tidak hanya menjadi anak tiri untuk bisa berprestasi. Masih ingat pernyataan Oka Sulaksana, atlet selancar angin, (sebelum keberangkatan ke Qatar) bahwa dana yang diberikan untuk persiapannya sangat minim. Ia pun harus merogoh koceknya sendiri untuk membeli beberapa peralatan penting lainnya yang notabene tidak murah. Padahal, ia ditargetkan untuk mendulang medali emas pada nomor andalannya karena prestasinya selama dua Asian Games terakhir sangat mengagumkan (mendapat medali emas secara beruntun). Sepertinya, alasan kekurangtersediaannya dana tidak bisa menjadi alasan utama jikalau masih saja ada peng-anakemas-an sebuah olah raga tertentu.

Baru-baru ini Komisi X DPR RI akan memanggil Menegpora dan Ketua Umum KONI Pusat sehubungan dengan kegagalan Indonesia di pentas Asian Games Doha 2006. Secara terbuka Menegpora dan Ketua Umum KONI Pusat telah menyatakan kegagalan Indonesia dalam event 4 (empat) tahunan ini. Memang, semua stakeholders harus dilibatkan untuk membina olah raga nasional. Masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah pusat saja, tetapi juga oleh segenap pecinta olah raga, pengusaha, pemerintah daerah, dan stakeholders lainnya.

Keterpurukan Indonesia di bidang olah raga tentunya akan mempengaruhi image Indonesia di mata internasional. Ibarat perusahaan, perusahaan yang memiliki brand image baik tentunya mempunyai daya tarik tersendiri dan yang pasti kepercayaan dari dalam maupun luar negeri. Meminjam istilah Frank Riboud (CEO Groupe Danone saat ini): “Danone must not only be a TRADEMARK but also a TRUSTMARK”. Atau seperti yang dikatakan oleh Marc Gobé dalam bukunya Emotional Branding: The New Paradigm for Connecting Brands to People dalam 1 dari 10 Commandements of Emotional Branding disebutkan bahwa harus ada perubahan paradigma dari honesty (kejujuran) ke trust (kepercayaan). Kepercayaan sangat penting harganya dan lebih sulit dari sekedar jujur.

Semoga, introspeksi kali ini akan memunculkan kejujuran-kejujuran dari setiap insan olah raga yang tidak akan lagi hilang ditelan bumi. Kemudian, pada saatnya nanti akan menimbulkan kepercayaan. Pada akhirnya, Indonesia membutuhkan satu visi olah raga yang jelas sehingga setiap stekeholders berjalan di atas rel yang sama dan tidak ada lagi olah raga yang menjadi anak tiri. Semoga warga Indonesia bisa menjadi insan yang sehat sehingga bisa bekerja lebih keras, cerdas, dan ikhlas.

Saturday, December 16, 2006

Galuh, Kapan Nikah?

Eits, ini bukan konferensi pers tentang pernikahan saya apalagi tentang jadwal, calon, dan sebagainya.

Ini adalah pertanyaan yang paling sering saya dengar sekarang-sekarang ini yang ditujukan langsung kepada saya. Topik yang kata seorang sahabat saya disebut sebagai racun apabila dibicarakan oleh orang yang belum berkepala dua. Kata sahabat saya satu lagi, ini adalah topik yang tidak konkrit untuk dibicarakan panjang lebar. Pada akhirnya saya pun akan mengatakan ’setuju’ dengan pendapat mereka.

Mengapa ya kecenderungan sahabat-sahabat saya (laki-laki) sering menanyakan ini kepada saya (saat sedang bertemu)? Ada yang mungkin bercanda karena tidak ada topik lain, atau memang serius karena takut saingan dengan orang yang sama (ada-ada saja). Ada yang malah dengan terang-terangan menyebut nama; aduh memangnya barang, pakai disebut-sebut segala.

Saya berusaha memahami bahwa memang usia ini sudah tidak lagi remaja apalagi anak-anak. Beberapa sahabat saya seangkatan setua umur ini (terutama yang putri) memang sudah melakukan prosesi ijab kabul suci ini. Nikah sendiri pun sampai-sampai disebut sebagai penggenap dien (Islam). Atau dalam bahasa kerennya: menjadikan sang sabit menjadi bulan purnama (saya pikir ini adalah metaforma yang indah dalam konteks penyempurnaan). Tentunya, topik ini bukan topik main-main yang bisa dilakukan dengan seenaknya.

Saya sendiri...hummh, terlalu banyak banyak pembenaran yang ada di kepala ini sehingga perlu banyak-banyak membaca istighfar. Satu lagi yang membuat saya kurang merespon dengan pertanyaan-pertanyaan ini adalah karena banyak pertanyaan usil yang terlalu dibuat sederhana. Masalah pernikahan toh bukanlah masalah yang terjadi antara dua insan adam hawa saja tetapi menyangkut seluruh aspek silaturahim: keluarga keduanya. Kesulitan yang seringkali terjadi adalah bagaimana mengkomunikasikannya dengan kedua keluarga.

Kalau sudah sama-sama seiya sekata, tentunya akan lebih mudah. Kalau dari satu pihak masih ada yang ‘kekeuh’ dengan hal-hal lain (misal budaya, kekayaan, dan sebagainya) tentunya akan menambah rentetan penundaan pernikahan.

Saya seringkali menjawab pertanyaan tersebut dengan: “doakan saja, semoga disegerakan”. Ada yang balas tersenyum, ada yang balas dengan:”doa melulu, kapan ikhtiarnya”. Ada juga yang bilang: “sama dia saja, cocok kayaknya”. Lagi-lagi nyebut nama.

Pada akhirnya ada dua orang yang membuat saya terkesan, kedua sahabat saya ini usianya lebih muda dari saya dan kebetulan menanyakan pertanyaan yang sama. Hanya respon keduanya terhadap jawaban saya berbeda dari sahabat-sahabat saya yang lain. Responnya adalah sebuah nasihat panjang tentang kebaikan saya untuk segera menikah yang membuat jantung saya berdetak lebih cepat. Jikalau nasihatnya lebih panjang, mungkin saya sudah menangis. Tentu, itu bukanlah sebuah nasihat sembarangan, apalagi motivasi ngacau. Ya itu bukanlah motivasi ngacau yang telah membuat banyak orang tidak mempunyai topik bahasan renyah selain nikah.

Soulmate (belahan jiwa), itulah yang saya inginkan, bukan hanya sosok seorang teman hidup atau sekedar istri saja. Teringat film “Good Will Hunting”, dalam sebuah dialog, seorang profesor psikologi menasehati Will Hunting (pasiennya):

Prof: “Mengapa kau tidak menyatakan (menikah) pada dia?”

Will: “Aku tidak punya cukup keberanian, di mataku ia adalah sempurna. Adapun aku...aku sangat tidak sempurna.

Prof: “Will...tidak ada orang yang sempurna, begitu pun dirinya. Kau sajalah yang berpikir dia terlalu sempurna bagimu. Mungkin dia pun berpikiran sama padamu. Justru dengan ketidaksempurnaanmu dan ketidaksempurnaannya yang bersatu akan menjadi sebuah kesempurnaan.”

Will: (terdiam)

Allah memang menciptakan segala sesuatu beserta soulmate-nya seperti yang tertulis dalam firman-Nya:

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah (QS Adz Dzariyat 51: 49)

Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang memikirkan (QS Az Zukhruf 43: 12)

dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan (QS An Naba` 78: 8)

dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita (QS An Najm 53: 45)

Soulmate, bagi manusia, dia tidak akan pernah mati secara emosional. Begitu pun ketika sang manusia agung, Rasulullah Muhammad SAW kehilangan sang Khadijah.

Lalu kapan saya akan menikah? Pada akhirnya inilah saya, semoga sahabat bisa menatap mata saya lebih dalam tentang siapa dan apa yang ada di dalam hati saya.

Semua kisah pasti ada akhir yang harus dilalui

Begitu juga akhir kisah ini, yakinku indah

Mencoba bertahan sekuat hati

layaknya karang yang dihempaskan ombak

Jalani hidup dalam buai belaka

serahkan cinta tulus di dalam takdir

Tapi sampai kapankah ku harus menanaggungnya

kutukan cinta ini bersemayam dalam kalbu

Manusia Bodoh (ADA Band)

Friday, December 01, 2006

Dimanakah Posisi Guru? (Bagian 2 dari 2 Bagian)

Pendidikan dasar dan menengah memang berat, siswa diharuskan mengetahui semua ilmu dasar yang ada di bumi ini. Kalau bisa dibilang, siswa Indonesia merupakan salah satu yang banyak tahu tentang ilmu dasar. Tidak heran, banyak siswa SD yang akhirnya menjadi terlalu serius di usianya yang seharusnya menjadi usia untuk bermain sambil belajar. Untuk guru SD, yang kebanyakan sekolah di Indonesia mempunyai 1 orang guru di kelas, tentunya menguasai keseluruhan ilmu dasar untuk diajarkan kepada anak didiknya merupakan tugas yang berat.
Tugas ini menjadi semakin berat dengan tidak didukungnya penghargaan yang layak kepada guru dari pemerintah. Tidak heran, dari guru SD sampai SMA ada yang memberikan les privat di luar jam sekolah untuk mendapatkan penghasilan tambahan atau agar peserta didik dapat mengerti lebih baik.
Namun, tidak sedikit guru yang akhirnya menjadikan tugasnya sebagai totalitas pengorbanan. Pernah melihat film ‘GIE’? Dalam sebuah adegan di film tersebut, Gie terlibat diskusi hebat dengan gurunya dan pada akhirnya berujung pada ketidaksepakatan Gie pada gurunya. Pada saat ujian, Gie merasa dikerjai oleh gurunya dan kemudian mengadu kepada kepala sekolah. Karena respon yang didapat tidak sesuai, Gie ingin memberi pelajaran bagi sang guru tersebut. Diam-diam Gie dan sahabat karibnya mengikuti sang guru yang sedang menuju perjalanan pulang ke rumahnya untuk memberikan pelajaran. Tetapi pada akhirnya, ia mengurungkan niatnya karena ternyata sesampai gurunya di rumah, sang guru disambut hangat oleh anaknya yang masih kecil di sebuah gubuk yang reot. “Ironis, nasib guru ini. Di sekolah tampak begitu keras dan sangar, di rumah tampak sebagai seorang pejuang keluarga yang sangat sederhana. Bagaimana aku bisa memberikan pembalasan padanya, padahal ia sendiri adalah seorang pahlawan”, begitulah kira-kira kata Gie dalam hati di film tersebut.
Jika mau jujur, berapa banyak orang yang akan memilih menjadi guru di negeri ini sebagai pilihan pertama profesinya? Dengan melihat tingkat kesejahteraan yang didapatkan dan kewajiban yang diberikan, tampaknya hanya segelintir orang yang mau dengan ikhlas menjadi seorang guru.
Tuntutan pemerintah untuk menaikkan HDI (human development index) manusia Indonesia tidak hanya terletak pada peningkatan mutu perguruan tinggi, tapi juga pada mutu pendidikan dasar yang dimulai dari SD. Tanpa pembentukan anak Indonesia yang berpendidikan, tentunya tidak akan menghasilkan input bagi SDM perguruan tinggi yang berkualitas.
Ada lagi isyu yang hangat dan pernah dilontarkan pemerintah yaitu bahwa jumlah guru yang dirasa masih kurang. Namun, di lain sisi pengangkatan guru untuk menjadi pegawai negeri merupakan perkara yang sulit. Hal ini diperparah dengan mengangkat guru kontrakan sebagai jalan keluarnya. Mau tahu gaji seorang guru kontrakan? Jangan kaget! Rp 5.000,- per jamnya. Para mahasiswa ITB saja jika memberikan les privat adalah minimal sebesar Rp 20.000,- per 2 jam. Anda tentunya bisa membayangkan, akan makan apa dengan penghasilan seperti itu.
Tidak heran, banyak terjadi demonstrasi menuntut kejelasan status guru kontrakan akhir-akhir ini. Karena guru pun manusia yang mempunyai keluarga untuk dihidupi. Jika Anda bilang, guru tidak pantas berdemo. Apakah Anda akan berani bilang bahwa guru tidak pantas hidup? Guru berdemo hanya sekedar memperjuangkan haknya yang paling dasar-hak untuk tetap bertahan hidup.
Baiklah, bila pemerintah masih dalam tahap merancang bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus kesejahteraan guru; Harian Umum Republika dan PT Telkom Tbk melalui CSR (coorporate social responbility) sudah melakukan usaha konkrit untuk meningkatkan kapasitas guru melalui pelatihan-pelatihannya. Pelatihan-pelatihan yang diharapkan mampu meningkatkan kapasitas keseluruhan seorang guru (pada tulisan sebelumnya, disebutkan bahwa kapasitas akademik guru sudah dibatasi). Guru bukan hanya milik pemerintah, tetapi juga milik sektor swasta; karena para pengusaha pun lahir dari seorang guru. Oleh karena itu, inisiatif yang telah dimulai, sekiranya perlu diikuti oleh pihak swasta lainnya. Jika seorang siswa sudah menjadi seorang engineer, dokter, pengusaha, atau bahkan presiden. Guru tetaplah menjadi seorang guru. Maka, memang layaklah ia disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Monday, November 27, 2006

Dimanakah Posisi Guru? (Bagian 1 dari 2 Bagian) -25 November sebagai Hari Guru Nasional-

Waktu kecil dulu, saya selalu berpandangan bahwa guru merupakan sosok yang begitu bisa diandalkan, disegani, bahkan ditakuti. Perkembangan pandangan ini tentunya selalu mengalir mulai dari SD sampai SMA. Apabila SD guru dianggap sebagai bos, pada SMA pandangan ini akan lebih bergeser dengan memposisikan guru sebagai orang tua.
Terlepas dari sifat-sifat pribadinya dan kurikulum pendidikan Indonesia, guru telah memberikan peranan besar dalam pendidikan bagi seorang anak. Melihat kewajiban belajar sembilan tahun (SD-SMP), guru merupakan salah satu orang yang tentunya mendapat waktu sendiri dalam kehidupan seseorang. Meskipun dalam setiap tahunnya seseorang akan mendapatkan guru yang berbeda, proses interaksi yang ada antara seseorang dengan guru masih akan kental terasa.
Pada kenyataannya, memang, banyak “mantan” siswa atau bahkan siswa sendiri yang meremehkan peran guru; mulai dari alasan karena gurunya terlalu galak, bodoh, atau bahkan karena si “mantan” siswa ini sudah meraih gelar sarjana bahkan doktor. Tak ayal, kondisi ini mempunyai persepsi tersendiri bahwa guru dalam waktu-waktu tertentu tidak dibutuhkan lagi. Tentunya, saya pribadi tidak setuju dengan persepsi ini karena pandangan ini hanya terkait kepada sifat-sifat guru yang tidak disukai siswa dan bahwa guru harus selalu lebih pintar dari siswa ataupun “mantan” siswanya.
Sadar maupun tidak disadari, jenjang karier guru sangatlah terbatas. Secara umum tidak ada sebuah upaya untuk meningkatkan kapasitas guru secara akademis (pendidikan tertinggi guru yang rata-rata adalah sarjana) karena itulah yang pada akhirnya membedakan status antara guru dan dosen. Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa guru telah memberikan seluruh kemampuan terbaiknya kepada para siswa. Selain itu, guru pun telah memberikan fondasi pendidikan bagi para siswanya agar ia bisa melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Ada baiknya, melihat polling persepsi masyarakat terhadap guru yang dikeluarkan oleh mediaindo.co.id pada tahun 2000 (meskipun sudah 6 tahun yang lalu, persepsi masyarakat cenderung untuk tidak berubah)

  1. Apakah Anda setuju para guru melakukan demonstrasi?

Setuju = 389 (70.34%)
Tidak Setuju = 164 (29.66%)

  1. Apakah Anda setuju para guru melakukan mogok mengajar?

Setuju = 139 (25.36%)
Tidak Setuju = 409 (74.64%)

  1. Menurut pendapat Anda, bagaimana kehidupan ekonomi guru saat ini?

Sangat Baik = 4 (0.73%)
Baik = 26 (4.72%)
Kurang Baik = 241 (43.74%)
Tidak Baik = 280 (50.82%)

  1. Menurut Anda, apa yang menyebabkan para guru melakukan demonstrasi?

Gaji guru terlalu kecil

= 213 (38.8%)

Gaji guru sering dipotong oleh berbagai macam potongan

= 100 (18.21%)

Para guru iri dengan tunjangan struktural PNS yang sangat tinggi

= 75 (13.66%)

Gaji tidak seimbang dengan beban kerja yang berat

= 161 (29.33%)

  1. Pantas atau tidak, para guru yang berjasa besar mencerdaskan masyarakat mendapatkan gaji kecil

Pantas = 18 (3.3%)
Tidak Pantas = 528 (96.7%)

  1. Bagaimana pendapat Anda tentang berbagai macam potongan gaji guru yang dilakukan Dept. Pendidikan dan PGRI?

Harus segera dihentikan

= 265 (48.62%)

Pejabat Dept. Pendidikan dan PGRI perlu diselidiki dan diproses ke pengadilan

= 178 (32.66%)

Pemotongan gaji guru adalah tindakan yang tidak manusiawi

= 102 (18.72%)

  1. Bagaimana pendapat Anda tentang Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)?

Organisasi yang mewakili kepentingan para guru

= 100 (18.55%)

Organisasi yang tidak mewakili kepentingan para guru

= 228 (42.3%)

PGRI adalah kendaraan politik salah satu partai

= 211 (39.15%)


Jika tuntutan kenaikan gaji guru dikabulkan, apakah Anda yakin kualitas mengajar para guru akan meningkat?

Yakin = 298 (54.88%)
Tidak Yakin = 245 (45.12%)

Pada intinya, para guru seringkali dituntut lebih tanpa mendapatkan masukan yang cukup. Bila diibaratkan dengan proses produksi. Maka guru harus dituntut untuk menghasilkan barang yang bagus, namun sistem produksi dan inputnya buruk. Dimanakah posisi guru bagi kita? Tentunya setiap orang mempunya persepsinya masing-masing

Bersambung

Friday, August 04, 2006

Bandung Love Story


Seperti layaknya film Tokyo Love Story, ternyata Kota Bandung tidak kalah dahsyatnya dalam menampilkan sisi tersebut. Memang bedanya, Tokyo Love Story difilmkan dan menjadi sesuatu yang pernah sangat diminati. Bandung, hampir sama melalui film ‘Jomblo’nya yang terlalu menyederhanakan makna cinta.
Bagi saya, film kehidupan di Bandung inilah yang menjadikannya tetap hidup. Bukan untuk dikatakan dan dipublikasikan, hanya untuk dirasakan alirannya. Bila saya adalah udara, cinta adalah anginnya; bila saya adalah air laut, cinta adalah ombaknya -begitulah definisi yang coba disederhanakan oleh Anis Matta.
Memang sesuatu yang berharga dan indah seringkali harus disembunyikan, bukan dilupakan, hanya untuk dijaga agar tetap berharga. Some words are better remain unspoken, some feeling are better unsaid. Saya tidak percaya pada yang namanya jatuh cinta, yang ada adalah belajar untuk mencintai.

Kickback as A Sick Culture


Probably and hopely I had never think it will happen to my life: a beaurocratic corruption. If we ever went into a beaurocratic process where the government's project tender is the main issue, we would hear a familiar word (between consultants and governments): "kickback". I just heard that dirty word today when my boss gave me the project and urged me to make the estimate finance. At the first time I was very angry and couldn't think why such a dirty thing just though like a joke; people can easily forget it as easy as breading.
A kickback is a consultant`s compensation persentage which is given for the government giving the project. This compensation is used for government`s project monitoring and evaluation. So, if a governmet gives a project, the consultant must pay a kickback to the project-given government; the government use this compensation to monitor and evaluate the project. In this normative definition, kickback is not wrong; but, in many Indonesian cases, this definition doesn't connect with the implementation itself.
In Japan, we can also find the kickback. But, there is a on-legal-paper agreement between the government and the consultant. And, ofcourse, the kickback is used as same as the definition that I have mentioned above. In Indonesia, kickbacks are not (have been not) written on a legal paper; the government and the consultant just take this kind of attitude that have been becoming an Indonesia sick culture –who have been always claiming that have the most moslems population (in term of quantity) in this planet. About the amount of compensation`s percentage? Ofcourse, it depends on the agreement of the government and the consultant. If the money were not used for government`s monitoring and evaluation, what would it used for? This money, in Indonesia cases, is used to make the final project presentation presented by the consultant easier. The government who gives the project and is gained a kikback makes a non-tention-pressure condition when the consultant presents its project result. And as you have imagined before, the government`s little-project-evaluation team don`t do its duty to give feedback to the consultant`s final project presentation.
The conclusion is that the quality of projects in Indonesia should be questioned again because of its beaurocratic corruption called the kickback. Not every Indonesian government do this thing, for example: Fadel Muhammad, Gorontalo leader, returned the kickback back to his citizien. Although many leaders do not do the same thing, I hope a few leaders make a great impact to this country with kicking out dirty governments away.
-Thanks for the discussion bro, I hope we will have a great time together and make a great change in this country-

Gajian, Perlukah Menunggu Waktu


Wisuda bagi setiap orang menimbulkan ekspresi yang berbeda-beda. Bagi kebanyakan mahasiswa, momen ini adalah momen yang begitu luar biasa, tak terkecuali bagi para orang tua mereka (bagi yang masih hidup). Sampai-sampai ada yang berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencari "PW" alias pendamping wisuda meskipun statusnya kontrakan. Tidak aneh memang, jika di akhir setiap perjuangan akan menghasilkan kesedihan atau kebahagian. Yang membedakannya adalah apakah ada rasa syukur atau tidak. Begitu pun dengan wisuda merupakan salah satu bentuk nyata dari perjuangan hidup. Yah bagi banyak orang kuliah adalah perjuangan dengan berbagai ragam versinya: apa karena perjuangan nilai, harta, harga diri, dan sebagainya
Sekarang saya sudah melewati masa itu -4 Maret 2006- dan beralih di masa lainnya. Tidak mudah untuk mencatutkan keinginan dengan realita; yang paling tidak mudah adalah mencoba mensejajarkan keinginan kita dengan omongan sekitar. Seringkali saya dengar dari teman-teman sekitar: "Kerja dimana Luh? Kok ga ngelamar ke BI?" atau dengan ucapan senada tetapi dengan frasa yang berbeda "Kok kerja disana? Gajinya kan ga seberapa? Kapan nikahnya dong?"
Diorama pemikiran manusia yang berbeda memang seringkali menampilkan sisi konflik yang cantik. Dalam kaitan kerja, ternyata kita mempunyai visi yang berbeda. Dalam kaitan idealisme, kita pun berbeda. Waktu yang kita gunakan pun berbeda, setiap orang melangkah karena benturan visi dan realita. Waktulah yang akan mempertemukan mereka berdua apakah memang jodoh atau tidak.
Bagi saya sendiri idealisme itu memang penting, hanya harus menginjak ke bumi. Memang sementara waktu saya tidak seperti kebanyakan orang, kerja dan dapat uang. Uang saya dapat belum seberapa, yah paling masih bisa dicicil untuk ditabung di BMI sekalian untuk modal ke depan.Lantas apakah gajian merupakan esensi dari kerja? Tidak rupanya, gajian adalah penghargaan bagi hasil kerja itu sendiri. Tetapi yang pasti saya pun tidak mau menjadi orang yang tidak bergaji. Bukankah ketika kita berangkat kerja yang halal dan dihadang Malaikat Izrail akan gugur sebagai syuhada? Saya pun punya rencana untuk memperoleh itu pada saatnya, menunggu momentum yang tepat. Saya harap saya tidak terlambat untuk gajian, karena pada saat ini saya berada pada sektor yang kebanyakan mahasiswa tidak suka -asisten departemen/prodi- yang katanya tidak banyak menghasilkan uang. Saya pikir saya tidak terlambat dalam gajian karena memulai pada titik yang berbeda. Saya pun menginginkan titik yang sama pada nantinya, bahkan menyalipnya. Karena idealisme bukan jangka pendek, ia hanya bertindak sebagai penuntun terhadap perubahan realita.
Terus, ada lagi yang masih bertanya: "Kapan nikahnya kalau gitu? Kan gajinya belum besar". Pertanyaan yang sangat wajar saya pikir. Hanya bukan masalah besarnya gaji yang menjadi titik temu yang bijak, namun cukupkah gaji itu untuk memulai modal berkeluarga dan seberapa pintarkah kita menginvestasikannya. Saya pikir, pada saatnya nanti entah besok atau kapan juga, saya tidak mau melantarkan teman hidup saya itu demi ego yang berlebihan. Yang terpenting kan membangun komunikasi lintas antara saya dan dia, karena saya yakin inilah tahapan saya memulai kehidupan pasca kampus.

Monday, May 08, 2006

Refleksi Monolog Kabinet KM ITB


Sesuatu itu akan besar apabila dari awal sudah dipandang besar; akan tetap kecil apabila selalu dianggap kecil.
Banyak orang tertipu akan kenyamanan sebuah fasilitas organisasi, padahal orang-orang dalam organisasi itulah yang membuatnya nyaman bukan organisasinya. Sedangkan kita adalah bagian dari organisasi tersebut yang mau tidak mau, kita turut menentukan kenyamanan tersebut.
Kadangkali kita harus bilang iya meskipun mayoritas berkata tidak jikalau kita yakin benar apa yang kita bawa.
Banyak orang menunggu perintah, padahal PR masih banyak; kalau kita lebih paham kondisinya, kenapa kita tidak mengambil inisiatif untuk bergerak, toh kita masih mempunyai banyak teman untuk sama-sama bergerak. Kalau tidak sekarang, kapan lagi; kalau bukan kita, siapa lagi yang akan memulai.
Banyak orang mengira bahwa dirinya tidak diperhatikan; ternyata, orang di sekeliling kita pun merasa sulit untuk bisa memperhatikan dirinya sendiri apalagi orang lain. Toh besarnya perhatian yang kita inginkan dari orang lain berbanding lurus dengan perhatian yang kita berikan kepada orang lain.
Kebahagian sejati tidak terletak pada bahagia atau tidaknya kita, tetapi bagaimana orang-orang di sekeliling kita bisa turut merasakannya.
Orang bilang kabinet eksklusif, ternyata memang tidak seluruhnya salah. Masih banyak orang yang memanfaatkannya hanya sebagai fasilitas berkegiatan tanpa pernah memandangnya sebagai rumahnya. Benar begitu kata orang, kalau tuan rumahnya pun tidak merasa memiliki untuk memelihara rumahnya, mana mungkin para tamunya merasa dihargai.
Banyak orang bilang, kita berhasil dengan banyaknya kegiatan. Pernyataan ini tidak salah benar, hanya intinya seberapa jauhkan kegiatan tersebut bisa bermanfaat secara proses dan outcome. Meskipun di satu sisi, masih banyak mahasiswa yang menjadi pengamat sejati: kritik sana-sini tanpa pernah mau terlibat di dalamnya, atau memang masih banyak yang berbeda dunia.
Orang tidak bisa selamanya plekmatis dan dianggap benar di semua pihak, karena setiap orang punya prinsip yang terkadang harus dipertahankan.
Argumen itu basi bila hanya mengandalkan nalar karena potensi nala, nilai, dan nurani merupakan dasar yang tidak bisa dikesampingkan.
Pada akhirnya semua aktivitas itu berujung kepada satu pertanyaan: sudahkah ia bernilai sebagai ibadah?

Sunday, January 29, 2006

Catatan

Hanya sekedar pembuka.....Semoga ada manfaatnya dan dapat digunakan sarana untuk belajar