Tuesday, May 15, 2007

Liverpool FC - AC Milan


Perhelatan final UEFA Champions League tanggal 23 Mei 2007 akan berlangsung beberapa saat lagi. Bagi para penggemar sepakbola dunia, ajang ini mempunyai prestise yang sangat tinggi. Sebagai industri sepakbola, UEFA telah memadukan bagaimana bisnis dan olah raga bisa berjalan beriringan meskipun pada sisi lainnya, tidak semua hal bersifat manusiawi. Dalam laga final kali ini akan menampilkan “juara” Eropa yang kurang bersaing secara kompetitif di liganya masing-masing yaitu AC Milan dan Liverpool FC. Untuk tingkatan juara Champions League (termasuk Champions Cup), AC Milan dan Liverpool merupakan klub terbanyak kedua dan ketiga peraih gelar ini dimana AC Milan telah meraih 6 gelar juara, sedangkan Liverpool FC 5 kali.
Secara tipe permainan, AC Milan dan Liverpool FC memainkan gaya yang sangat berbeda. AC Milan memainkan sepakbola indah, termasuk yang paling enak ditonton setara dengan Arsenal FC dan Barcelona CF pada musim ini. Sedangkan Liverpool, meski dilatih oleh seorang Spanyol dan diperkuat beberapa pemain bergaya latin, bermain dengan karakter British kick and rush yang kental. Kunci perbedaan gaya permainan ini sangat dipengaruhi oleh komposisi dan karakter pemain lapangan tengah kedua tim. Jika di AC Milan terdapat 1 “badak” yaitu Gennaro Gattuso, Liverpool FC mempunyai tiga yang terdapat pada diri Mohammed Sissoko, Javier Masscherano, dan Steven Gerrard. Secara skill tentunya Masscherano dan Gerrad lebih dari seorang Gattuso terutama dalam visi bermain. Namun disinilah letak kunci dalam gaya permainan kedua tim dimana yang satu mengandalkan kengototan, yang satu lagi mengandalkan perpaduan.
AC Milan memiliki pemain pengatur tempo dengan umpan jarak jauh terukur pada diri Andrea Pirlo, adapun Liverpool mempunyai seorang Xabi Alonso. Kaka’ dan Clarence Seedorf adalah dua orang stylish AC Milan yang menjadikan permainan lini tengan AC Milan lebih berirama. Liverpool FC tidak mempunyai pemain stylish kecuali Luis Garcia yang musim ini didera cidera panjang. Untuk permainan melalui sayap murni, AC Milan “kalah kelas” dibandingkan Liverpool FC dengan bercokolnya nama-nama seperti Jermain Pennant, Mark Gonzales, Boudewijn Zenden, dan bahkan John Arne Riise. Untuk striker, AC Milan memiliki pemain berkelas dalam diri Filippo Inzaghi dan Alberto Gillardino. Adapun striker Liverpool FC adalah tipikal khas British yang ngotot, cepat, dan kuat duel di udara.
Yang paling mengherankan dari Liverpool FC adalah kefasihannya dalam menerapkan strategi catenaccio sehingga seringkali lawan sangat kesulitan untuk menjebol gawangnya. Adapun pemain-pemain belakang AC Milan telah banyak termakan usia. Namun dalam kondisi top form, Jamie Carragher dan Alessandro Nesta adalah dua orang center-back terbaik dunia.
Di luar semua itu dengan semakin berkurangnya peran Paolo Maldini di AC Milan, dan di luar apapun pertandingan final ini, Steven Gerrard adalah kapten impian untuk semua klub di dunia karena semangat juangnya, motivasi untuk rekan-rekannya, kepemimpinannya, dan visi permainannya.
Menilik dari performa perorangan selama turnamen ini, Kaka’ dan Clarence Seedorf adalah dua pemain kunci AC Milan yang harus diwaspadai jika tragedi Bayern Műnchen dan Manchester United tidak mau tejadi pada Liverpool FC. Adapun Steven Gerrad adalah pemain yang selama ini tetap menjadi roh dari Liverpool FC dan jika dirinya berada sedang on fire, Kaka’ dan Seedorf tidak ada artinya.
Pada akhirnya, duel final kali ini adalah pertarungan strategi dan determinasi bukan hanya sekedar perbedaan gaya permainan. Di balik itu semua, Carlo Ancelotti dan Rafael Benitez untuk zamannya termasuk pelatih terbaik di dunia. Dan dibalik dunia yang lain daripada yang lain, tanggal digelarnya final itu, umur saya menurut kalender masehi akan bertambah....

Monday, April 09, 2007

In The Middle of Chances or Nothing (bagian 3)

Sepertinya, bagian ini (3) akan menjadi bagian yang terakhir. Bukan karena kehabisan bahan, hanya tampaknya pemintaannya tidak terlalu banyak. Kata orang marketing, niche (ceruk pasar)-nya sedikit. Tapi itu analisis saya sesuai dengan hukum supply-demand. But unless, semoga ceritanya yang terbagi dalam 3 seri ini menjadi rangkaian yang tetap persuasif, provoatif, dan argumentatif. Bagian ini cukup rumit karena mengandung banyak data dan nama. Bagi Anda yang jerawatan, harap hati-hati.

Oke, sekarang masuk zaman revolusi industri yang dimulai di United Kindom (UK). Sebagai catatan, Revolusi Industri (RI) terdiri dari RI I dan RI II. Bapak Industrialisasi Amerika adalah Samuel Slater yang merupakan kelahiran UK dan pernah bekerja pada Richard Arkwright (tokoh besar RI UK). Meskipun UK merupakan negara yang memulai RI, ternyata Amerika Serikat (AS) adalah negara yang paling cepat meniru dan memodifikasi. Persis seperti yang dikatakan oleh Tung Desem Waringin: ”lihat, tiru, modifikasi.”

Semua dimulai tahun 1800-an ketika penemuan-penemuan akbar mulai mengguncang dunia. Harvard, Cambridge, Oxford University (sudah ada sejak tahun 1600-an) sudah menjadi centre of excellence dunia dan semakin memperkokoh RI. Kedua negara ini merupakan negara yang mempunyai kelas engineering tersendiri yang semakin lama semakin dahsyat. Sebagai tambahan, pada zaman ini hidup juga Napoleon Bonaparte yang mempunyai ambisi yang sangat besar karena leadership dan kecerdasan luar biasa yang dimilikinya.

Persaingan engineering UK dan AS tidak dapat dielakkan lagi. Meskipun mereka saudara kandung, keangkuhan kebijakan kerajaan UK pada warga sipil di AS menjadi motivasi lebih bagi warga AS untuk berbuat lebih baik (puncaknya terjadi pada perang sipil AS-tentara UK). AS menjadi semakin digdaya setelah wilayahnya menjadi lebih besar dua kali setelah membeli sebagian tanah ‘Perancis’ di Amerika Utara bagian Timur dari Napoleon (Napoleon pada waktu itu sedang butuh uang untuk menjalankan kebijakan ekspansif Perancis). Wilayah AS kemudian bertambah pesat lagi setelah merebut tanah Mexico di bagian Barat Amerika Utara setelah melalui peperangan sengit AS-Mexico. Momen inilah yang akhirnya membuat AS mempunyai potensi keunggulan (comparative advantages) lebih besar dari UK. Dan...seperti kita akui bersama, dari momen itulah sampai sekarang AS has been building its legitimacy as the most superpower country on earth.

RI II dimulai di medio 1980-an dengan ditemukannya metal baja yang jauh lebih murah dan efisien. Kemudian diikuti oleh penemuan-penemuan luar biasa lainnya seperti telepon (Alexander G. Bell) dan setumpuk penemuan penting oleh seorang Swedish-blooded Yankee Thomas Alva Edison dengan kredo-nya yang sangat terkenal: “jenius adalah 1 persen ide hebat, 99 persen kerja keras”. Pada saatnya nanti Edison mendirikan General Electric (GE) yang sekarang menjadi perusahaan paling untung di dunia dan telah melahirkan the best CEO in the 20th century, Jack Welch, seorang Irish-blooded Yankee yang merupakan seorang chemical engineer. Sebagai catatan, brand yang paling dikenal di AS saat ini adalah Sony (brand Jepang) dan bukannya Coca Cola (peringkat 2). Pada RI II ini, UK sebagai pesaing AS mulai mundur secara bertahap. Kualitas pribadi orang-orang besar AS sangat hebat. Mereka tidak segan-segan menularkan ilmunya kepada warga AS lainnya. Inilah yang membuat knowledge spreading di AS berjalan semakin cepat. Edison sendiri pernah membantu seorang bocah yang bernama Henry Ford yang pada saatnya nanti akan menghasilkan perusahaan mobil Ford yang sempat menggemparkan dunia otomotif dunia sebelum dikalahkan oleh Toyota.

Di zaman itu pula, bisnis mulai mendapat perhatian serius dan orang-orang sangat kaya dari bisnis mulai bermunculan (Andrew Carnegie, John D. Rockefeller, Henry Ford, dll). Percampuran engineering dan bisnis tampak semakin menjadi 2 sisi mata koin alias dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Seorang teman saya, katakanlah namanya Lucky (ini nama sebenarnya =p), berkata bahwa Frederick Taylor (atau lebih tepatnya Frederick Winslow Taylor) adalah Bapak Pendiri Teknik Industri (TI) atau bisa juga sebagai Bapak Ilmu Manajemen Modern. Mana yang benar? Kedua-duanya benar, namun definisi ini harus diruntut lebih historis dan setelah melalui peruntutan historis yang lebih benar adalah tetap kedua-duanya. Sejumlah alasannya akan saya ungkapkan disini juga, sekarang juga, dan gratis!

Seperti sudah diutarakan secara berbusa-busa pada cerita sebelumnya bahwa pada zaman RI, engineering berkembang begitu pesat. Pada zaman itu, engineers berlomba-lomba untuk menghasilkan produknya. Tahap ini belum cukup karena para engineers juga butuh pemasukan agar bisa tetap mendapat segepok roti (bukan sesuap nasi). Oleh karena itu, para engineers mematenkan produknya (zaman itu juga merupakan zaman paten-mematen). Setelah produknya dipatenkan maka siapapun yang ingin menggunakan dan mengembangkannya harus membayar royalti. Disitulah mulai timbul hubungan simbiosis-mutualisme dimana engineers menjadi kaya dengan dikembangkannya produk-produknya. Perusahaan memanfaatkan uangnya untuk memproduksi produk-produk yang tepat guna yang dinantinya akan dibeli oleh publik.

Perusahaan-perusahaan ini mengalami sebuah tantangan untuk bisa memproduksi produk-produk engineering dengan biaya yang termurah, sumberdaya yang terefisien, dan keuntungan yang aduhai. Ingat, pada saat ini belum dikenal ilmu bisnis yang rumit. Artinya dalam sebuah perusahaan (industry), produk-produk engineering itu pun harus diproduksi secara ter-engineered. Dan yang mengerti masalah meng-engineering-kan produksi produk-produk engineering adalah engineers sehingga peran engineers sangat besar. Engineers mesin, kimia, fisika, metalurgi semuanya bercampur dalam industry untuk memperoleh produk-produk engineering sesuai standar baku.

Pada intinya, perlu ada efisiensi dalam memproduksi produk-produk tersebut yang dikenal dengan industrial efficiency. Industrial efficiency ini dibutuhkan agar semua biaya bisa diminimalkan dengan kualitas produk tetap nomor satu. Istilah industrial efficiency inilah yang kemudian dikenalkan Frederick Winslow Taylor kepada dunia perindustrian AS. Karena konsepnya lebih kepada manajemen maka disebutlah dia sebagai Bapak Ilmu Manajemen (bukan modern). Meskipun demikian, dalam konteks zaman itu, ilmu manajemen masih berkutat pada industry dan engineering (industrial efficiency) sehingga timbullah mazhab engineering baru yang dinamakan industrial engineering (TI) yaitu engineering yang berkonsentrasi pada pengembangan, pembaruan, penerapan, dan evaluasi sistem yang teringrasi antara masyarakat, ilmu pengetahuan, peralatan, energi, material, dan proses. Inilah awal mula TI yang dibutuhkan mengingat keterbatasan kemampunan engineers lain (metalurgi, fisika, kimia, mesin) dalam industrial efficiency. Oleh karena itu, TI memang diciptakan untuk mengatur engineers yang lain dan dengan konteks zaman itu, sangat erat kaitannya dengan engineering. Dengan demikian, selain sebagai Bapak Ilmu Manajemen, Frederick Winslow Taylor juga dikenal sebagai Bapak Pendiri Teknik Industri Bagaimana dengan zaman sekarang, apakah tetap seperti yang dulu? Bagaimana pula manajemen zaman sekarang?

Saya mengambil contoh perkuliahan TI di University of Texas A&M yang mendefinisikan engineers TI sebagai seseorang yang mampu berkonsentrasi pada pengembangan, pembaruan, penerapan, dan evaluasi sistem yang terintegrasi antara masyarakat, ilmu pengetahuan, peralatan, energi, material, dan proses (sama dengan definisi TI di atas). Engineers TI diharapkan mampu menyelesaikan masalah secara kreatif dalam segala bidang termasuk ke-eletronikan, telekomunikasi, transportasi, rumah sakit, pemerintah, dll secara efisien. Ingat kata efisien merupakan kata kunci dimana meskipun TI tidak lagi digunakan dalam konteks engineering tetapi tetap harus efisien. Secara umum kuliah TI di University of Texas A&M memuat sistem (produksi: perencanaan, operasi), kontrol, manusia dan ergonomis, statistik dan riset operasi, dan manajemen TI. Benar-benar khas industrial engineering.

Bagaimana dengan di Indonesia? Saya mengambil contoh TI di ITB karena merupakan TI tertua dan terbaik di Indonesia. TI ITB sendiri merupakan jurusan pecahan dari Teknik Mesin dan mulai berdiri sendiri dengan nama Teknik Indutri pada tahun 1967. Kurikulummnya mengalami perubahan yang terus menerus hingga akhirnya mengalami penyerempetan ke arah manajemen dan bisnis yang dapat dilihat pada kurikulum terbarunya. Dalam mata kuliah wajib dicantumkan kuliah Kewirausahaan dan Pengembangan Bisnis; adapun pada mata kuliah pilihan terutama pada KP Rekayasa Manajemen Manufaktur sudah tidak TI banget seperti Manajemen (SDM, pemasaran, keuangan, dan inovasi), Perancangan e-Bisnis, Sistem Pendukung Keputusan, Teori Kepemimpinan dan Motivasi. Mata kuliah semacam ini sama dengan yang diajarkan di jurusan Manajemen (UI, IPB), Bisnis (Prasetya Mulya BS, Bakrie BS), atau Bisnis Manajemen (SBM ITB). Entah kenapa hal ini terjadi, tampaknya TI memang ditakdirkan untuk tidak pernah lepas dari bisnis dan manajemen. Atau, mungkin inilah strategi untuk menarik TI agar tetap eksis di belantara persaingan ITB Idol yang semakin ketat, atau tanyalah pada rumput yang bergoyang, atau tanya saja langsung ke para dosen dan mahasiswa TI-nya.

Yah itulah TI, yang tetap engineering (menurut kesimpulan saya). Meski, sana-sini penuh modifikasi. Lalu bagaimana dengan manajemen? Manajemen berkembang lebih pesat karena menyentuh semua sektor baik privat maupun publik. Manajemen kontemporer tidak lagi melulu dikaitkan dengan industri tetapi bisa dikaitakan dengan bisnis, leadership, atau sekedar ilmu manajemen umum. Karena keterbatasan permintaan, maka pembahasan tentang manajemen tidak akan saya utarakan saat ini.

Akhirnya, bagi Anda yang baca dari awal sampai akhir dengan tekun dan kasih komen, Anda termasuk orang yang nekat, tetapi Anda beruntung karena cerita ini masih gratis. Bagi Anda yang membaca dengan tergesa-gesa dan tetap kasih komen, Anda termasuk orang yang perhatian. Bagi Anda yang tidak baca sama sekali dan tetap kasih komen, Anda termasuk orang yang cari perhatian. Bagi Anda yang sama sekali tidak baca dan tidak komen, saya tidak bisa komentar apapun.

Tamat




Monday, April 02, 2007

In The Middle of Chances or Nothing (bagian 2)

Pada zaman ini, dimana Eropa sedang diselimuti awan kebodohan, dikenallah peradaban Kekhalifan Islam. Peradaban yang dimulai dengan peradaban di Madinah sampai puncaknya di Bagdad dan Andalusia. Dua peradaban besar (Ancient Greek dan Roman Emperor) sebelumnya mengajarkan beberapa konsep dasar ke-planologian yang diantaranya adalah sistem zoning, public parks, public goods, dan estetika bangunan. Peradaban Kekhalifan Islam mengajarkan konsep-konsep lanjutan yang juga akan berpengaruh pada peradaban sekarang. Konsep good governance (GG) diterapkan pertama kali saat Piagam Madinah. Konsep GG pada intinya bagaimana pemerintah dapat menerapkan prinsip-prinsip GG seperti akuntabilitas, transparasi, partisipasi, dan sebagainya yang berbeda definisinya tergantung lembaga mana yang mendefinisikannya. Dalam Piagam Madinah diterangkan arti pemerintahan dan arti kewarganegaraan secara formal yang dalam pelaksanaanya mentransformasi nilai-nilai Rasulullah Muhammad SAW yang siddiq (jujur, benar), amanah (akuntabel), fathanah (konstruktif), tabligh (komunikatif, kooperatif, koordinatif) yang bermuara pada al-amien (the trusted). Trust adalah komponen utama pembentuk social capital. Musyawarah yang sering dilakukan di zaman itu pada hakikatnya merupakan bentuk demokrasi “rembugan”. Dalam demokrasi model ini maka analisis SWOT dan partispasi publik menjadi saringan utama dalam definisi menuhankan rakyat dalam arti vox populi, vox dae (suara rakyat, suara tuhan). Karena pada intinya suara rakyat akan menjadi suara tuhan jika tidak hanya berdasar pada suara terbanyak, tetapi pada suara terjernih.

Konsep public services juga sudah sangat baik, hal ini ditandai dengan didirikannya beberapa rumah sakit gratis dengan pelayanan terbaik dan terbersih. Pada zaman ini pula dikenallah seseorang yang bernama Ibnu Sina (Avicenna) yang dikenal sebagai Bapak Kedokteran. Jalan-jalan pun tidak ada yang berlubang atau jika memakai istilah sekarang di-hot mix. Begitu pun dengan public places dan public services lainnya yang sangat diperhatikan. Tidak berbeda dengan dua peradaban besar sebelumnya, estetika bangunan juga dipelihara meskipun tidak semegah arsitektur Yunani dan Romawi. Pada peradaban ini juga mulai dikenal dengan beberapa konsep pembiayaan pembangunan yang adil dengan menarik sejenis pajak kepada masyarakat dan mendistribusikannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk pembangunan, penyediaan public services dan public goods. Dalam zaman itu, ke-planologian tidak hanya berkembang secara fisik tetapi juga non-fisik terutama dalam bidang government dan finance.

Jika kita pernah menonton film Robin Hood: Prince of Thieves (1991) yang dibintangi oleh Kevin Costner, kita akan mengetahui perbandingan peradaban Islam di Andalusia dan Eropa (Inggris) saat The Darkest Ages. Diceritakan, Robin Hood mempunyai teman yang bernama Azeem (diperankan oleh Morgan Freeman) dan pada suatu saat Azeem meminjamkan teropongnya kepada Robin. Saat Robin melihat melalui teropongnya, ia terbelalak kaget karena bisa melihat objek yang jauh menjadi begitu dekat. Itulah salah satu ilustrasi adanya gap peradaban antara Eropa dan Kekhalifan Islam pada zaman itu.

Setelah peradaban Kekhalifan Islam berakhir yang ditandai dengan terebutnya Andalusia dengan cara tidak manusiawi, dimulailah zaman Eropa baru yang dikenal dengan Renaissance. Sebagai catatan, Kekaisaran Romawi Lama yang berpusat di Roma (Italia) dalam pekembangannya tidak mempunyai pengaruh pada Romawi Byzantum (Baru) yang berpusat di Konstantinopel. Setelah keruntuhan Romawi Lama, tidak ada hubungan antara Roma dengan Konstantinopel. Pada zaman The Darkest Ages di Eropa, tanah bekas Romawi Lama disebut sebagai Eropa, adapun Romawi Byzantum (yang hidup sezaman dalam The Darkest Ages) tidak termasuk ke dalam Eropa.

Kebangkitan Renaissance dimulai di kota-kota Italia seperti Venesia, Genoa, dan Florence. Jika kita mengkuti perkembangan sepakbola Italia, ketiga kota tersebut mempunyai klub-klub sepakbola yang bernama AC Venezia, Sampdoria, dan AC Fiorentina. Pernah mendengar Las Vegas? Kota judi yang sangat terkenal. Begitupun dengan Florence yang saat itu menjadi kota judi dunia. Secara ke-planologian, kota-kota berkembang dengan pusat-pusat tertentu. Ada yang berkembang karena sebagai pusat militer, pertambangan, perdagangan, dan bahkan judi. Tetapi tampaknya keruntuhan Florence akibat menjadi pusat judi, bisa menjadi pembelajaran yang berharga bagi pemerintah Indonesia untuk tidak membuat kebijakan bejat dalam melegalkan judi seperti di Batam, Jakarta, Semarang, dan Surabaya. History is not just an accumulation of facts but it is a story to learn and to face for a better future.


Pada akhirnya Italia runtuh, dan digantikan oleh Inggris (United Kingdom). Hal ini sama persis dengan mulai runtuhnya peradaban sepakbola Italian Seri-A yang diikuti dengan semakin bersinarnya English Premier League. Pada zaman ini dikenal istilah gold, gospel, and glory yang menandai dimulainya ekpansi kolonial. Tampaknya Thomas L. Friedman terlambat menerbitkan idenya dalam sebuah buku yang berjudul The World is Flat yang belum lama diluncurkan baru-baru ini. Orang-orang Eropa tampaknya sudah menyadari jika dunia ini memang sudah datar oleh karena itu ekspansi kolonial (termasuk ekonomi) wajib hukumnya.

Apa implikasinya bagi dunia ke-planologian? Secara kewilayahan, Eropa mulai memperbaiki infrastruktur fisik dan sistem ketatanegaraannya. Orang mulai kembali membangun Eropa yang lebih civilized meskipun Eropa tidak pernah akur sampai tahun 1950-an. Kebijakan kolonialisme yang menguntungkan Eropa tentunya mempercepat pembangunan di Eropa dan menggrogoti pembangunan di Amerika Selatan, Afrika, dan Asia.

Di saat-saat kolonialisme inilah muncul definisi core-periphery global. Definisi ini menjelaskan bahwa ada daerah core yang berarti pusat dan periphery yang berarti daerah pinggiran. Dalam teori umum, periphery adalah daerah pendukung core. Tetapi pada kenyataannya, core malah menghisap periphery sehingga terjadi ketimpangan luar biasa. Dalam konteks global core tersebut adalah negara-negara kolonial Eropa, dan periphery-nya adalah negara-negara di Amerika Selatan, Afrika, dan Asia. Ternyata konsep ini terbawa ke Indonesia dimana Jakarta telah menjadi main core; Surabaya menjadi second core. Hal yang sangat berbahaya yang pada akhirnya menyebabkan ketimpangan yang kita bisa lihat sekarang ini. Jadi bukan hanya salah mereka (baca: rakyat Aceh dan Papua), jika Aceh dan Papua merasa harus merdeka.

Pada rentang tahun 1700-an sampai sekaranglah perencanaan di Eropa mulai mentransformasi diri. Definisi perencanaan mulai mengalami perubahan secara ilmiah. Pada awalnya Eropa menganut perencanaan artistitk yang diperlihatkan dengan bangunan-bangunan yang khas kuno (masih terlihat sampai sekarang). Kemudian timbul mazhab baru yang mengatakan bahwa tidak penting artistik, yang terpenting adalah fungsinya. Setelah itu muncul pendapat lagi jika perencanaan tidak diperlukan lagi karena membuat masyarakat tidak bekembang. Hingga pada akhirnya muncul istilah participatory planning (perencanaan partisipatif) yang sekarang latah diucapkan oleh orang yang jago atau sekedar sok jago.

Kembali ke Inggris... Pada saat kemapanan Eropa, Inggris adalah negara super power dunia dengan revolusi industrinya yang terkenal. Revolusi industri ini telah merubah pola kota menjadi lebih bervariasi yaitu menempatkan pabrik di daeral sub-urban. Pada saat itu, engineering berkembang begitu pesat. Di zaman Ancient Greek, Roman Emperor, Kekhalifan Islam, sampai dengan medio Renaissance, science mendapatkan tempat yang tinggi. Namun science berkembang terus menuju engineering yang akan merubah dunia menjadi semakin cepat.

Di era inilah industri-industri mulai menguasai dunia dan muncullah soft-leader industry-private yang dikenal dengan nama industrial engineering (teknik industri) sebagai konsekuensi kebutuhan akan keteknikan industri diluar teknik metalurgi, mesin, fisika, dan kimia. Ceritanya akan berlanjut lagi dengan nostalgia teknik industri…

Bersambung



Friday, March 30, 2007

In The Middle of Chances or Nothing (bagian 1)

When the path is never clear

While the opportunities are speaking differently

Should I change the direction then?


Kelulusan sarjana saya di Teknik Planologi ITB (atau sekarang lebih dikenal dengan nama Perencanaan Wilayah dan Kota) sudah terjadi setahun yang lalu. Dari awal masuk sampai lulus, inti dari kuliah di sini seperti tumpukan Big Mac yang dimakan sekaligus tanpa ada jeda untuk memahai keterkaitan komponen-komponen di dalamnya. Yang saya pahami, Teknik Planologi dan Teknik Industri adalah dua jurusan di ITB yang multisciences, global, dan tidak spesifik tetapi menjadi soft-leader bagi beberapa jurusan dibawahnya. Bedanya, Teknik Planologi menjadi soft-leader government-public (SL-GP) dan Teknik Industri menjadi soft-leader industry-private (SL-IP).

Dalam sebuah dialog: “Sok tahu Luh, emang pernah kuliah di TI (Teknik Industri)?”. Kata saya: “Emangnya loe tahu gitu, loe juga sok tahu tentang gue. Yang penting gaul dan analitik dong. Gini-gini juga gue dulu ga jadi masuk TI gara-gara kata orang ga jelas, ternyata PL (Teknik Planologi) juga ga jelas. Jadi jelas tahu dong sekarang kenapa ketidakjelasan ini sebenarnya dimaksudkan untuk memberikan kejelasan terselebung. Nah itu dia, makanya gue bikin istilah SL-GP dan SL-IP.” Dialog yang ngaco dan kesimpulan yang filosofis. Tetapi intinya adalah ketidakjelasan (atau lebih tepatnya ketidakspesifikan) ternyata memberikan makna bahwa keluasan ilmu itu untuk mengatur ilmu-ilmu lain yang lebih detail.

Meski istilah (SL-GP dan SL-IP) itu tidak sepenuhnya mewakili, tetapi saya pikir sangat berguna untuk lebih memudahkan mendapatkan koinsidensi yang paling enak. Koinsidensi, apaan tuh? Yah artinya kira-kira persamaan. Bagi saya, berkutat di dunia perencanaan wilayah dan kota, secara keilmuan, sangat menantang. Untuk dunia teknik industri, saat ini saya masih angkat tangan karena saya tidak memahami seluruhnya, hanya sebagian kecil dan sisanya saya anggap ceteris paribus.

Dunia perencanaan wilayah dan kota yang sudah malang melintang dari zaman dahulu, baru mendapat tempat secara akademis di Indonesia pada 14 September 1959 ketika jurusan ini dibuka pertama kali sebagai pecahan jurusan Teknik Arsitektur dan Teknik Sipil ITB, bernama Bagian Planologi. Kebutuhan akan jurusan ini adalah untuk mempercepat pembangunan Indonesia secara lebih terarah dan terencana.

Hasilnya? Bisa kita lihat sendiri. Mau protes silakan, mau dukung silakan. Yang pasti dalam negara ini, kajian keilmuan positif (scientific matters) seringkali tidak bisa diterapkan dengan serta-merta. Perlu melalui proses politik dagang sapi untuk menghasilkan kebijakan yang mengakomodir.kepentingan-kepentingan yang ada. Untuk kasus ini saya setuju dengan Teori Darwin yang menyatakan bahwa semua makhluk hidup harus melalui proses seleksi alam dan yang paling bisa beradaptasilah yang akan tetap survive. Begitulah dengan perencanaan di Indonesia yang harus melewati proses seleksi alam sampai dia dipreteli baru kemudian dieksekusi.

Berbicara perencanaan berarti berbicara hukum asal dan teori normatif. Kata salah satu dosen saya, perencanaan itu tidak bisa didefinisikan karena definisinya selalu berkembang sesuai dengan zaman. Nah itu dia definisi perencanaan yang seperti Voldermort (dalam cerita Harry Potter)-yang tidak boleh disebutkan namanya. What ever lah, yang pasti saya sepakat jika ini hanya berupa definisi dalam konteks dinamis bukan statis. Pada kenyataannya memang perencanaan mengalami perkembangan tergantung pendefinisian orang pada zamannya.

Pada zaman Yunani kuno (Ancient Greek), perencanaan selalu di-identikkan dengan keindahan kota dengan bangunan megah di pusat-pusat pemerintahannya dan adanya central public goods yang berupa taman-taman kota dan tempat hiburan (teater dan musikal). Istilah polis (negara kota) mulai dikenal pada saat ini. Polis adalah sebuah bentuk kota yang juga merupakan sebuah negara. Oleh karena itu, negara-negara tersebut berukuran kecil. Mungkin inilah yang kemudian memberikan inspirasi bagi The United States of America yang lebih menggunakan pengkategorian state (negara bagian) daripada provinsi. Atau mungkin yang lebih dekat lagi, memberikan inspirasi pada DKI Jakarta untuk menjadi sok negara seperti sekarang. Polis yang paling terkenal di zamannya adalah Sparta dan Athena. Tetapi ada dua perbedaan signifikan dalam menjalankan kebijakan negaranya. Sparta menggunakan kebijakan militer dimana setiap laki-laki harus kuat dan menjadi tentara. Minuman wajib bagi para laki-laki Sparta adalah darah babi. Kebijakan negara seperti di Sparta ini tampaknya masih dianut oleh Myanmar (Junta Militer) maupun rezim Bush saat ini yang sangat mengandalkan militer sebagai ekspansi kebijakan negaranya. Berbeda dengan Sparta, Athena lebih mengedepankan intelektualitas. Meskipun pada awalnya sering terjadi perang antarpolis, toh pada akhirnya tercapai sebuah zaman dimana Ancient Greek pernah diakui sebagai peradaban termaju di dunia.

Hal ini berlanjut pada zaman Romawi (Roman Emperor) terutama Romawi Lama-Roma bukan Romawi Baru-Byzantum. Roman Emperor (yang sekarang diplesetkan untuk menjuluki Roman Abramovich-pemilik Chelsea FC) mengalami masa pasang surut. Orang akan banyak mengenang peristiwa dan tokoh elegan pada zaman ini dari Julius Caesar (yang namanya diabdikan untuk proses kelahiran melalui operasi perut), Filipus, dan sebagainya. Tetapi tahukah kita darimana asal nama vespa yang identik dengan model motor? Di zaman kelamnya, Roman Emperor mempunyai seorang kaisar yang tolol bernama Vespasius. Pada zamanya, jalan kota begitu pesing karena orang (laki-laki) boleh buang air (kencing) dimana saja. Karena masyarakat protes akan polusi udara ini, maka si kaisar mencari ide dan terbesitlah ide untuk membuat toilet umum. Toilet umum tersebut disebar di beberapa titik jalan kota dan diwajibkan untuk membayar. Jika kita melihat toilet-toilet umum yang menyebar di kota-kota Indonesia maka kita akan tahu darimana asalnya itu.

Setelah kedua zaman besar tersebut, Eropa mengalami masa paling suram yang dikenal dengan The Darkest Ages. Zaman ini adalah zaman mitos, sience dianggap angin lalu saja peradaban untuk sesaat mati di Eropa. Oleh karena itu, cerita tentang King Richard, Lancelot, dan Merlin si tukang sihir begitu membahana sampai sekarang. Copernicus dan Galilleo pun pernah merasakan pahitnya kematian science. Begitupun dengan perencanaan di Eropa pada zaman The Darkest Ages yang dianggap sebagai angin lalu saja. Basis pusat kota di zaman kegelapan ini adalah dengan ditandai dengan berdirinya benteng. Daerah urban adalah daerah di dalam gerbang, adapun daerah luar benteng adalah daerah rural. Pembagian tegas antara ­urban-rural ini sebenarnya sudah terlihat pada saat Roman Emperor dan pada akhirnya akan menjadi ciri khas penataan ruang kota-kota di Eropa sekarang yang berbasis pada kumpulan wilayah homogen atau yang kemudian lebih dikenal dengan istilah zoning. Meski pada zaman ini, masyarakat Eropa hidup pada kebodohan, ada beberapa kearifan kultur (culture wisdom) yang masih mengakar, salah satunya adalah pola kota dengan konsep zoning.

Pada zaman kegelapan Eropa ini, di belahan dunia yang lain muncullah peradaban Kekhalifan Islam yang lebih detail dalam merencanakan wilayah dan kota….

Bersambung



Thursday, March 29, 2007

The Missing Radio Channel

Instrumen lembut Kitaro yang senantiasa hadir pukul 23.00 WIB ke atas mengantar saya tidur pulas sambil merenung, mendengar segala kisah manusia yang tercurah dalam channel ini. Sambil terkadang berpikir sendiri, jika saya seperti dia, apa yang akan saya lakukan. The rhythm spread into my silent mind while resting from all day-long activities. Stretching the rigid bones when the night-reflection speaker soften his voice.

From the end of third grade until the end of my study at ITB, I had been listening to this channel which became a friend whom I never spoke to. All those days, I still remembered that it gave me courage when I was tired.

Sebuah channel radio yang menemani malam panjang saya dari mengerjakan tugas kuliah yang tiada hentinya menyapa dan aktivitas kampus yang tidak pernah tak padat. Memberikan inspirasi saat ide sudah kosong dan menjernihkan pikiran saat suntuk datang.

Melayani pagi saya dengan kajian-kajian cerdasnya sambil jari-jari mengetik Tugas Akhir yang kejar tayang. Atau sekedar mendengar semangat orang-orang tua yang ingin bacaan dan hafalan Qurannya didengar oleh seorang ustdaz.

Sebuah channel radio di Bandung yang dimulai sesaat setelah adzan subuh hinggal pukul 24.00 WIB, yang bagi sebagian kalangan kehadirannya mampu memberikan warna tersendiri. Entah bagaimana nasibnya kini pasca poligami sang inisiator (Aa Gym) karena masyarakat masih senang bergunjing daripada mengambil inti persoalan dan kebaikan umum.

Bagi warga Bandung dan sekitarnya, MQ FM yang merupakan anak perusahaan dari MQ Coorporation sudah tidak asing lagi. Termasuk saya, apalagi saat-saat akhir tingkat tiga, tingkat empat, hingga akhir tingkat lima semasa kuliah di ITB. Sebenarnya sudah sejak tingkat satu saya mengenalnya namun dengan nama MQ AM (karena belum tersedia pada channel FM).

Itulah channel MQ FM, yang telah ter-default baik di radio saya, meskipun pada akhirnya daya tangkapnya menurun karena antena radio saya secara tidak sengaja saya patahkan pada waktu setengah tersadar dari tidur.

For whom I never forget and always miss. No Bogor radio channels are equal as MQ FM.

Friday, March 23, 2007

Allah is Always There

Seperti manusia biasa, saya mempunyai keinginan untuk menjadi lebih baik, menjalin persahabatan, dan perilaku-perilaku manusiawi lainya.

Entah mengapa, pikiran ini baru menyantol dipikiran saya; entah karena daya jelajahnya yang sudah semakin baik atau perkembangannya yang memang belum begitu cepat sehingga saya baru mengerti. Yang pasti saya baru menyadari bahwa dalam hidup ini manusia itu butuh pendukung; dan manusia itu termasuk saya. Pendukung adalah orang (atau orang-orang) yang selalu ada disamping kita termasuk pada saat-saat dimana kita ingin merealisasikan keinginan, merayakan kebahagian, ataupun berbagi kesedihan.

Akhir-akhir ini, saya terlalu banyak mendengar banyak janji; saya pun mempunyai pengharapan yang sangat besar pada mereka. Pada akhirnya, pengharapan tersebut bertepuk sebelah tangan. Saya pun baru sadar bahwa berharap lebih pada orang lain bukan tindakan rasional karena akan berujung pada kekecewaan. Setiap orang mempunyai kesibukannya masing-masing yang lambat laun akan membuat prioritas-prioritasnya yang paling rendah akan terlupakan, termasuk jika anda atau saya menjadi prioritas terakhir mereka. Entah itu kesibukan kerja, bisnis, organisasi, atau sekedar sok sibuk.

Jika lingkungan terdekat saya atau mungkin anda tidak mendukung, rasanya pundak terasa lemas tanpa sandaran. Padahal yang semestinya didukung adalah hal yang tidak rumit, baik, dan tidak melanggar syariat apapun. Yang didapat dari lingkungan tersebut adalah sikap steorotip yang berlebihan, mengangkat kasus kegagalan, bahkan sentimen kedaerahan; kesemuanya minim ruang diskusi kekeluargaan.

Rasanya memang Allah tempat mengadu yang paling baik, melampiaskannya pada lantunan desir ayat-ayat-Nya, shalat malamnya, dan tafakur yang panjang seraya berharap: “Ya Allah, jika aku masih hidup, jadikanlah aku orang yang optimis dan selalu berbuat kebaikan tanpa melihat pandangan miring orang-orang seperti layaknya cerita Lukman Al-Hakim bersama anaknya dan seekor keledai. Ya Allah, jika pundakku masih bergetar karena tidak ada tempat bersandar yang dekat, berikan aku seseorang yang menjadi sandaran. Ya Allah, berikanlah pahala yang tidak terhingga pada orang-orang yang selama ini telah mendukungku dalam kebaikan dan kesabaran.”

Monday, February 26, 2007

Corat-Coret 2 Minggu Ini

Sebenarnya saya ingin benar ke Bandung karena sudah lama tidak kesana (selain karena barang saya masih ada yang di Bandung), sekedar untuk berbagi cerita dan pengalaman serta silaturahmi. Akhirnya sabtu kemarin tidak jadi ke Bandung padahal sudah janji mau mengisi acara kawal PAA (maaf teman-teman PAA). Saya juga di-sms sama seorang teman saya untuk datang ke Bandung selasa ini: biar refreshing katanya sekalian kumpul-kumpul sama teman kungkow-kungkow di kemahasiswaan dulu. Kebetulan teman tersebut yang datang dari Bandung nengokin saya waktu pasca pembedahan (meski nengoknya juga ga sengaja), jadi kurang lebih dia tahu keadaan saya. Tapi, akhirnya saya tidak bisa datang juga (maaf lagi untuk teman saya). Mungkin, wisudaan ini? Mungkin. Soalnya teman saya yang diwisuda Maret ini juga ingin saya datang ke wisudaannya.

Saya dapat banyak cerita dari seorang teman saya yang sekarang kuliah di Malaysia, tentang bagaimana dosen disana selalu mendorong untuk PMA (positive mental attitude). Istilah ini sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Steven Covey cuman baru sebatas teoritis di Indonesia. Intinya, setiap permasalahan itu dipandang positif. Sikap mental seseoranglah yang akan menentukan permasalahan itu akan terselesaikan atau tidak dengan kondisi mental seseorang. Yang terpenting dari PMA ini adalah ketika seseorang sedang menghadapi masalah, ia melihat bahwa ia harus merupakan bagian dari solusi betapapun beratnya permasalahan tersebut. Saya ingat betul apa yang dikatakan oleh Steven Covey bahwa buku-buku kepribadian sekarang telah salah kaprah dengan memberikan tips-tips untuk disenangi orang lain secara instan. Padahal yang dibutuhkan adalah merubah paradigma seseorang agar lebih memahami orang lain bahkan memahami anaknya (jika sudah punya anak). State-of-the-art nya adalah "merubah paradigma" dan bukan dengan menggunakan trik-trik instan.

Jika salah seorang teman saya membaca ini, masih ingat tentang kekecewaan: "kenapa bukan kita yang kepilih". Kekecewaan itu relatif tergantung manusia. Yang mutlak itu Allah karena Dialah yang Maha Adil. Dalam ilmu sosiologi: manusia itu cenderung egois (seperti salah satu tulisan saya di blog ini). Dalam ilmu komunikasi, trust (kepercayaan) adalah elemen terpenting dalam membangun social capital. Oleh karena mengapa kata al-amin begitu penting bagi Muhammad SAW. Menurut survey terhadap kriteria CEO-CEO tersukses di dunia akan didapat kata jujur dalam kriteria utama. Menurut Marc Gobe dalam 10 Commandments of Emotional Branding, honesty (kejujuran) perlu ditransformasi menjadi trust (kepercayaan).

Lain halnya dengan seorang teman saya yang sekarang kuliah di Belanda, kesan partamanya adalah dia kaget dengan beberapa "view" yang vulgar. Tapi ini cerita lain yang tidak ada hubungannya dengan topik ini. Semoga saja dia bisa menyelesaikannya sampai akhir studi (Juli 2007).

Ditulis saat seorang teman beruneg-uneg tentang penatnya masalah yang ada

Thursday, February 08, 2007

Bandung, Jumat 13 Oktober 2005, Jam 20.00 WIB Keatas

Malam itu, tepatnya malam sabtu, tampak bersahabat. Bintang pun tidak malu-malu untuk tersenyum apalagi bersinar. Kususuri jalan kopo Soreang yang biasanya di siang hari ramai dan macet, sekarang tampak sangat lengang dan kondusif. Hanya tampak lelampuan perumahan dan toko yang saling bercengkrama dengan redupnya lampu jalan. Aaah... ternyata Soreang tidak semuram di siang hari. Jalan yang sepi ini membuat perjalanan enggan untuk melewati Jalan Tol Kopo sehingga setelah sekian menit kutempuh, kutemui kenangan pusat Kota Bandung tempo dulu. Yah, apalagi kalau bukan kawasan alun-alun yang sekarang tampak berbeda. Siapa pun tahu, bila BIP (Bandung Indah Plaza) merupakan trigger bagi tumbuhkembangnya mall-mall di Kota Bandung seperti BEC, Istana Plaza, Planet Dago, dll sampe Ciwalk yang kesohor itu (meskipun aku sendiri belum pernah kesana meskipun untuk sekedar bersilaturahmi). Ingat perkataan seorang penduduk Cihampelas belum lama ini: "Ciwalk itu dulu kebon yang ada pabrik makanannya yang digunakan juga untuk makanan waktu perang...".

Semua pasti tahu, dengan tumbuhkembangnya mall-mall baru dengan BIP sebagai inisiatornya, kawasan alun-alun tidak mempunyai identitas lagi. Yang ada hanyalah keindahan kenangan masa lalunya saja.

Tepat di depanku, kulihat Masjid Agung yang telah banyak mengalami perubahan sehingga sekiranya Kota Bandung tidak mempunyai lagi apa yang disebut alun-alun. Heran, jendela mobilku terbuka, tapi tidak kudengar suaru gema ibadah shalat tarawih. Apa mungkin pikiranku melayang sehingga pendengaranku tersihir oleh indahnya kawasan alun-alun yang sepi dan tenang di malam hari. Yah, malam itu tampaknya kebanyakan penduduk sedang asyik beribadah di masjid maupun di rumah. Sedangkan aku, aku coba untuk beribadah yang lain dengan menikmati malam di kota lama.

Tidak jauh dari situ kutemui dan kususuri Jalan Banceuy kemudian ABC, Kebon Kawung, Dewi Sartika, dan jalan-jalan legendaris lainnya yang seringkali digosipkan oleh mahasiswa kita (Planologi), entah untuk belanja atau sekedar menjadi objekan mata kuliah seperti studio, rangkot, dsb.

Mengingat kawasan Dewi Sartika, membuka kenangan lamaku bersama teman-temanku di Rancang Kota (inget tidak friends =p ?). Di saat survey Rancang Kota dulu, hujanlah yang menyambut kita. Ah, cuman hujan air, paling basah saja. Sesi potret-potret dan hitung bangunan tampaknya jadi sesi utama kami. Kegiatan kami ditutup dengan sesi manaiki menara masjid agung yang mencapai puluhan lantai dan menakjubkan! dari menara itu hamparan Bandung sebagai daerah cekungan tampak begitu jelas dan mempesona. Bilamana, mungkin, Kota Bandung ditimpa cobaan, sungguh mudah untuk merendamnya dengan sekali guyur.

Ah, sudah cukup kenangan rangkot. Hmm... sekarang sampai Braga, jalan yang mempunyai nilai historis sangat tinggi dan sampai sekarang masih dilestarikan. Dahulu, jalan ini hanya boleh dipakai untuk pertokoaan kelontong. Sekarang, entahlah, aku menengok kekiri sudah tampak calon bangunan menjulang. Sepertinya calon apartemen nih. Seputar Braga sekarang pun tampaknya sekarang sudah dipenuhi dengan tempat-tampat hiburan sesaat yang "pufh" seringkali melenakan kita. Mengingat Braga berarti mengingat bahwa tempat ini pernah dipakai syuting video clip anak muda Jerman, yah kira-kira 5 tahun yang lalu. Entah sekarang si gondrong ini kemana tapi baunya sekarang sudah tidak ada sampai nama si artis ini pun sudah aku lupakan. Oia, Gill namanya.

Wastukencana, jalan dengan gaya transisi guna lahan kuno-modern, merupakan perpaduan sempurna atau istilah kerennya jembatan antara kota lama dengan kota baru. Sudah tampak gedung bank yang menjulang tinggi di samping jembatan. Di daerah ini (dari stasiun lama) aku pernah dikejar preman atau WTS ya =( jam 23an WIB. Memang dulu kereta dari Jakartanya baru sampai jam 23 dan aku iseng untuk melihat stasiun lama yang ternyata sudah ada "penunggunya".

Tugu sister city menandakan akan berakhirnya perjalanan di Wastu Kencana. Kumasuki Jalan Purnawarman, yang mencerminkan daerah transisi yang menawan dengan perumahan yang teratur dimadu oleh sang pepohonan rindang. Bangunan-bangunnya tampak bersih dan serasi dan juga tua; seperti asrama Sumatera Selatan yang tampaknya cocok menjadi lokasi uji nyali. Sebelah kanan tampak Holidy Inn yang menjulang angkuh meskipun tampak punggungnya saja.

Tidak terasa, sudah sampai Jalan Taman Sari yang senantiasa berubah. Di pojok sudah menanti BAA dengan segala keribetan administrasinya, di depan ada si jalan layang yang harusnya sejak era 80-an dibangun tapi selalu mengalami kendala politis dan keuangan.

Ah ah silau, di pojok sana ada Jalan Pelesiran yang malu-malu untuk menghadap si Badak Singa. Itulah lokasi kosku yang mencerminkan kegagalan tata ruang; dengan air tanah yang sudah tercampur air comberan.

Sebuah Kenangan- Saat Orang-Orang Sedang Shalat Tarawih

Sunday, January 21, 2007

Berhenti Sejenak

Karena berbagai kepenatan yang timbul, saya berhenti sejenak dari dunia tulis menulis dan blog ini juga. Lagi pengen sendiri. Ga tahu kapan bisa muncul lagi. Moga secepatnya

Wednesday, January 10, 2007

Nasi Tim, Potong Rambut, dan Resolusi 2007

Apa hubungan antara nasi tim dengan potong rambut dan resolusi 2007. Ada! Meski terkesan dibuat-buat, tapi bagi saya hubungannya nyata.

Ceritanya begini..

Jumat itu tanggal 5 Januari 2007, saya bersama 4 (empat) rekan dari Manajemen Bisnis IPB hendak menghadiri acara welcoming dinner di Hotel Alia Cikini (depan Taman Ismail Marzuki). Pagi harinya, kami ribut-ribut membahas sebuah permasalahan dan sebagainya sampai saat jumatan. Dikarenakan sampai hotel harus jam 18.00 WIB maka kami memutuskan untuk keluar dari Bogor maksimal jam 14.30, mengingat hari Jumat dan kemungkinan macet di Jakarta pada jam-jam sibuk sangat besar.

Sebenarnya di kampus ada kantin yang biasa dijamahi para mahasiswa. Tetapi karena pengalaman kurang menyenangkan yang menimpa saya di kantin tersebut menyangkut masalah kecocokan harga, akhirnya kami memutuskan untuk makan siang di luar sebelum keluar Bogor. Akhirnya dipilih sebuah tempat makan yang kata teman-teman menjadi tempat kongkow yang biasa dikunjungi. Melihat menu dan kecocokan harga, akhirnya saya memilih nasi tim.

Sebenarnya bukan karena harganya saja yang relatif paling murah, tapi setahu saya, inilah pertama kali dalam hidup, saya memakan nasi tim. Mungkin terdengar berlebihan, hanya seinget saya seperti itu. Jikalau saya lupa, mungkin ini yang kedua atau ketiga kalinya sejak TK, mungkin. Saya sudah tidak ingat betul. Yang pasti, menu nasional ini masih asing di lidah saya. Sebagai catatan, seumur-umur, saya makan makanan nasional yang normal dari tempe, tahu, sampai nasi kelapa garam. Jadi memang sedikit keterlaluan jika nasi tim terlewatkan.

Karena tempat makannya kecil, jarak antarmeja juga sempit. Pada sebuah momen tertentu, ada seorang cewek nyeletuk: ”Maaf mbak permisi”. Bukan pada kalimatnya saya merasa tidak enak, tetapi karena kalimat itu saya pikir ditujukan kepada saya karena duduk saya memang menghalangi dia untuk duduk. So, ada yang salah dengan penglihatan orang jika melihat saya dari belakang. Ya! Rambut sudang panjang, kayak cewek saja. Dikuncir juga bisa.

Saya pikir, saya belum mempunyai resolusi konkrit untuk tahun 2007. Akhirnya saya putuskan, potong rambut sebagai resolusi konkrit pertama di tahun 2007. Tempat potong? Biasa, langganan di Pasar Bogor.

Akhirnya nasi tim datang. Bentuknya yang coklat mengkilap ditambah kuah dan pangsit goreng membuat selera makan bertambah. Untuk minuman? Biasa, teh tawar tanpa gula. Kata para ahli kesehatan, dengan meminum teh tanpa gula 2x sehari dapat mengurangi resiko terkena penyakit jantung sebesar 67%. Akhirnya kebiasaan ini saya rutinkan sejak september lalu.

Rasa nasi tim-nya? Mengambil istilah Pak Bondan: ”Mak nyus, rasanya nendang”. Ini to yang dinamakan nasi tim. Akhirnya saya terbebas dari kata kuper menyangkut masalah ini. Baru setelah acara makan beres, kami berangkat ke Jakarta.

Bismillah, dengan kecepatan ala jalan tol sisi paling kanan akhirnya sampai juga ke Jakarta dan keluar dari pintu Cempaka Mas. Belum keluar betul dari jalan tol, ternyata kemacetan sudah terjadi, persis seperti yang diduga. Akhirnya sampai juga ke hotel jam 16.00 WIB dan langsung mencari tempat shalat. Ternyata di hotel tidak ada mushala, tetapi masjid. Hotel yang mungil lucu ini ternyata mempunyai masjid di lantai 1. Disebut masjid karena luasnya relatif besar dan biasa digunakan untuk shalat jumat.

Sembari menunggu jam 18.00 datang, kami berlima menyeberang jalan untuk melihat-lihat TIM sambil potret-potret. Keluar semua gaya di sana. Biasanya di TIM ada pertunjukkan di dalam, tetapi sayang kami telat sekian menit dari jam 16.30. Akhirnya kami hanya keliling, keliling, dan keliling. Karena salah satu rekan merasa penat, kami putuskan untuk kembali ke hotel yang berudara lebih sejuk.

Ternyata di sana sudah ada para pesaing kami dari ITB, UI, dan Prasetya Mulya BS. Seharusnya masih ada lagi tim dari Unair, dan UGM yang mungkin masih pada mendekam di kamar. Tidak lama kemudian, tim IPB lainnya berdatangan. Habis itu teman saya nyeletuk: ”Gara-gara loe berdua wajah tim kita jadi tua”. Kalimat ini ditujukan pada saya dan rekan saya satunya. Tampaknya resolusi 2007 perlu segera dikonkritkan besok sabtu. Hal ini ditambah dengan salah satu anak Prasetya Mulya BS: ”Tampang anak IPB pintar-pintar”, dengan melirik pada saya. Iya, dasar gondrong, kusut, kayak profesor kutu buku saja, gumam saya. Oia kelupaan, saya juga bertemu saingan dari ITB dan kami saling berkenal-kenalan. Sebagai bekas almamater, basa-basinya cukup panjang. Bukan basa-basi sebenarnya tetapi lebih kepada in memorian.

Acara memang dimulai pukul 18.00 WIB kurang, tentunya ada break shalat magrib. Cerita belum berhenti, karena ternyata kami disuguhi kue yang menurut saya, seumur-umur inilah kue mungil terenak yang pernah saya makan. Oalah, dasar anak desa, ga tahu kue-kue gituan. Rasanya memang enak, pas coklatnya, pas rasanya. Setelah sang project leader-nya berbusa-busa nerangin teknis lomba hari minggunya, kami dipersilakan makan malam. Karena saya harus ke depan, maka pengambilan makanan saya serahkan ke teman (mengantisipasi habisnya makanan oleh serbuan makhluk-makhluk kelaparan). Begitu urusan di depan beres, saya menyusul ke tempat makan. Teman saya yang telah berbaik hati mengambil makanan tenyata mengambil porsi yang sangat besar. Ketika duduk, saya menyeletuk sama dia: ”Nik, ngambilnya banyak sekali. Badan saya memang besar, tapi makan saya ga banyak, malah sama kayak kamu yang cewek dan kurus”. Alhamdulillah habis juga ayam dua potong ditambah nasi dua gunung dan berbagai aksesoris lainnya.

Selepas shalat isya, kami akhirnya meninggalkan hotel pukul 10 malam.

Cerita selesai...

Pojok Jadebotabek

Friday, January 05, 2007

Aaah.....Sudah 2007

Jujur saja saya bingung. Lah wong ganti tahun kok sampai kayak menang perang saja. Semua orang tumpah ruah membuat semutan manusia.

Habis itu apa? Nihil. Panas-panas tahi ayam, paling-paling bingung lagi.

Umur tambah pendek malah senang, beda angka saja malah ribut. Cuma ganti 6 ke 7. Pun umur yang sudah disediakan oleh Allah menjadi berkurang lagi.

Semua butuh momentum dan momentum butuh aksi dan aksi butuh reaksi. Di dunia dengan 5 pulau besar ini, momentum bukan berasal dari hukum fisika tetapi dari filisofi entah filosofi kopi atau yang lainnya.Yang pasti, momentum 2007 butuh aksi dan reaksi menuju perubahan yang lebih baik.

Filosofi menjadi usang jika hanya berkutat di wacana. Terlalu banyak pengamat, terlalu banyak pahlawan mulut. Pada akhirnya, saya juga tidak mau terlarut dalam wacana filosofis tanpa solusi.

Negara ini patut bangga pada Nelson Tansu, Tri Mumpuni, Hidayat Nur Wahid, I Gede Winarsa, Andri Wongso, dan semua orang konkrit Indonesia yang berkeliaran di jagat ''The Earth''.

Untuk semua yang telah rela meluangkan waktunya membaca tulisan ini:
SELAMAT TAHUN BARU MAHESI 2007

Monday, January 01, 2007

Gerakan Syahwat Merdeka

Sore ini, seperti biasa, Jakarta menyengat panas. Wajah-wajah kuyu para pekerja menambah rautan panasnya Ibukota Indonesia. Tanah yang kata banyak orang kampung adalah syurga pekerjaan. Nyatanya tentu berbeda; bagi yang bermodal nekat, Jakarta bukanlah seorang sahabat karib.

Sore ini adalah hari Rabu tanggal 20 Desember 2006. Bagi sebagian orang, tampaknya hari ini bukan hari yang spesial. Bagi sebagian orang lainnya, hari ini adalah hari yang spesial karena hari dilangsungkannya Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2006 di Balai Sidang Jakarta. Bagi aku, hari ini spesial, tetapi bukan karena AMI Awards. Ada satu acara lagi yang hilang dari hingar-bingar publik, yaitu Akademi Jakarta Awards yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini Raya, Jakarta Pusat.

Untuk itu, selepas magrib, aku memasuki Taman Ismail Marzuki untuk melihat Akademi Jakarta Awards, penghargaan bagi para seniman. Ruangannya begitu dingin, tidak seperti udara Jakarta yang sangat menyengat. Kulihat di beberapa sudut tempat duduk beberapa tokoh nasional seperti Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah), Slamet Abdul Syukur (pemusik kontemporer), dan masih banyak lagi yang aku sendiri tidak kenal termasuk para wartawan harian nasional seperti Republika dan Tempo. Memang tidak ada wajah-wajah artis yang selama ini menjadi idola publik. Barang kali, teman-teman ini sedang bersilaturahmi ke AMI Awards untuk bersiap menerima penghargaan atau hanya sekedar menonton.

Sebelum acara penghargaan dimulai, Taufiq Ismail, sang maestro, berkesempatan untuk menyampaikan pidato kebudayaan. Sesuatu yang aku sangat tunggu dari manusia yang mempunyai integritas ini. Tidak seperti kuliah yang membuatku terbiasa mencatat dengan pena, aku cukup menyimaknya dan mencatatnya dalam hati. Kulirik kanan-kiri, tampaknya beberapa orang sudah tampak keasyikan dengan udara dingin ruangan.

Beginilah kiranya isi pidato Taufiq Ismail yang syarat makna namun minim publikasi. “Indonesia dikepung Gerakan Syahwat Merdeka. Gerakan Syahwat Merdeka ini tidak bersosok organisasi resmi, dan jelas tidak berdiri sendiri. Tetapi, bekerja bahu-membahu melalaui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya. Ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media massa cetak dan elektronik menjadi pengeras suaranya.”

Sesaat setelah itu, ruangan teater (Teater Kecil TIM) terdiam. Banyak orang tersentak, bahkan ada yang mengambil buku catatan kecil untuk mencatat pidato sang maestro. Ada juga yang bergumam panjang. Tapi, pidato ini belum selesai. Taufiq Ismail kemudian meneruskan pidatonya dengan menjelaskan siapa saja yang menjadi komponen syahwat merdeka tersebut. Setidaknya ada 13 pihak yang mendukung fanatik gerakan ini.

Yang pertama adalah praktisi yang sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Kedua, para penerbit majalah dan tabloid mesum yang telah menikmati tiada perlunya SIUPP. Ketiga, produser, penulis skrip, dan pengiklanan televisi. Taufiq Ismail mengatakan: “Semua orang tahu betapa ekstensifnya pengaruh layar kaca. Tayangan televisi rata-rata ditonton oleh 170 juta pemirsa. Untuk situs porno kini tersedia 4,2 juta di dunia dan 100 ribu di layar internet Indonesia. Untuk mengaksesnya malah tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari Fransisco sampai maupun Klaten (kasus adegan mesum yang dilakukan oleh oknum PNS Klaten-red.).”

Keempat, penulis, penerbit, dan propagandanis buku-buku sastra dan bukan sastra. Di Malaysia, penulis mencabul-cabulkan karyanya adalah adalah penulis pria. Di Indonesia, penulis yang asyik menulis wilayah ‘selangkangan dan sekitarnya’ mayoritas perempuan. Taufiq mengungkapkan ada kritikus Malaysia berkata jika pengarang Indonesia berani-berani dan tidak memiliki rasa malu.

Kelima, penerbit dan pengedar komik cabul. Keenam, produsen VCD/DVD porno. Ketujuh, pabrik alkohol. Kedelapan, produsen, pengedar, dan pengguna narkoba. Kesembilan, pabrikan, pengiklan, dan pengisap rokok. Menurutnya, hal ini dilatarbelakangi kenyataan dalam masyarakat permisif, interaksi antara seks, narkoba, dan nikotin akrab sekali.

Kesepuluh, para pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Kesebelas, germo dan pelanggan prostitusi. Keduabelas, dukun dan dokter praktisi aborsi. Taufiq mengatakan: “Bayangkan data menunjukkan angka aborsi di Indonesia mencapai 2,2 juta setahun. Maknanya, setiap 15 detik seseorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal di suatu tempat akibat dari salah satu atau gabungan faktor-faktor di atas.”

Masih menurut Taufiq, hilangnya rasa malu itu kemudian tercermin dalam gemuruh-gelombang penolakan RUU Pornografi dan Pornoaksi. Pihak ini yang kemudian disebut Taufiq Ismail sebagai pihak ketigabelas. Pada satu sisi memang masih ada kekurangannya. Salah satu kekurangan RUU ini yang perlu ditambah dan disempurnakan adalah perlindungan terhadap 60 juta anak-anak Indonesia. Di Amerika Serikat, anak-anak di sana dilindungi (paling tidak) dengan enam undang-undang, adapun di Indonesia masih nol.

Setelah pidato kebudayaan yang penuh makna itu, acara penghargaan kepada tiga orang yang berkiprah dalam seni dan humaniora dimulai. Para penerima penghargaan itu adalah Amir Pasaribu (bidang seni kreatif musik), Soejono R. P. (bidang arkeologi), dan Tengku Nasyaruddin S. Effendi (bidang kajian sastra). Terlepas dari kontroversi pemenang seperti yang terjadi di AMI Awards dan FFI, Akademi Jakarta Awards tampak begitu tenang, setenang ketidaktahuan banyak orang akan acara ini. Para juri di acara Akademi Jakarta Awards adalah Syu`bah Asa dan kawan-kawan. Menurut Syu`bah, penghargaan ini untuk karya-karya besar dan tanpa malam seperti ini mereka kurang terkenal.

Aku jadi berpikir sejenak, jika memang musik dan film adalah bagian dari seni, AMI dan FFI telah menjadi raksasa. Adapun Akademi Jakarta yang notabene sesepuh dari seni tampaknya mulai terlupakan oleh publik.

Mengulang kembali tentang pelaku keempat Gerakan Syahwat Merdeka, yaitu penulis, penerbit, dan propagandanis buku-buku sastra dan bukan sastra; aku jadi teringat beberapa novel yang telah aku baca. Ternyata pikiranku selama ini tidak salah, karena novelnya sendiri itu yang salah. Menurut N. H. Dini, dirinya sampai tidak kuat membaca sebuah novel yang pernah mendapatkan penghargaan karya sastra. Dia bertanya mengapa novel tersebut dapat penghargaan karena tidak ada bagusnya sama sekali.

Memang, banyak karya sastra yang sangat populer tetapi tidak syarat makna dan mutu. Erotisme dan pornografi dianggap karya seni, penulis pun kehabisan ide untuk mengeksplorasi realitas luhur rakyat bernurani. Malu rasanya jika harus membandingkannya dengan karya Pramoedya Ananta Toer atau Ahmad Tohari. Sastra bukanlah hanya rangkaian kata-kata indah, tetapi lebih kepada pengungkapan nilai-nilai moral dan nurani yang tinggi.


Saturday, December 23, 2006

Pada Umumnya Manusia Memang Cenderung Egois (Multi-Fragmen)

Siang itu, seperti biasa aktivitas penduduk berjalan normal, apalagi jam-jam sibuk seperti ini. Kendaraan beserta orang hilir mudik bergantian menampilkan potret kehidupan masyarakat kota yang tidak ada hentinya. Masyarakat yang katanya sangat sibuk, sangat pusing, dan sangat-sangat lainnya. Kebetulan pada hari itu, hari dimana manusia sedang hilir mudik, aku menjalankan rutinitasku untuk menjamah tempat-tempat terindah: kampus, kantor, dan sebagainya. Tentunya, angkot menjadi salah satu kendaraan yang selalu menungguku; atau mungkin juga sebaliknya, akulah yang menunggu angkot.

Penuh, pikirku seketika angkot itu menepi karena aku menyetopnya.

“Ya, kirinya digeser, bisa satu lagi”, kata si sopir seolah mengerti perasaanku.

Tidak ada yang bergeser. Semua penumpang diam seperti ada lem di bangkunya. Jika ada yang bergeser, itu adalah kedua bolah matanya yang secara spontan melihat sebuah ruang kosong tepat di pojok belakang angkot.

Alhamdulillah, aku bukan manusia cacat, aku pun masih muda. Berjalan berbungkuk sebentar sambil bergumul dengan lutut para penumpang menuju ruang kosong di pojok belakang itu bukan perkara sulit bagiku.

*************

Seminar, hari itu ada seminar di kampus. Seperti biasa, sebagai tempat ilmiah, kampus menampilkan kegiatan-kegiatan ilmiah di luar kuliah dan segala macam tetek-bengek praktikum. Tampaknya, tema seminarnya sangat menarik sehingga banyak orang yang hadir; kebanyakan mahasiswa. Setelah berbusa-busa memaparkan presentasinya, para pembicara seminar bersiap-siap menerima rentetan pertanyaan. Dimulai dengan termin pertama yang terdiri dari 3 pènanya. Pènanya pertamapun maju ke mikrofon terdekat dan dengan semangat berkata:

“Pak, melihat paparan Bapak saya merasa diingatkan tentang tulisan saya tentang manfaat energi alternatif. Dulu saya juga bersama teman-teman suka mengadakan diskusi rutin.”

“Hmmm, kalau yang saya tahu, pemanfaatan energi alternatif di Indonesia itu baru mau digalakkan dan dengar-dengar Cina dan Jepang sudah siap bekerja sama.”

“Tetapi saya seringkali merasa trenyuh karena lingkungan di sekitar rumah saya kurang bisa memanfaatkan sampah. Padahal kalau diolah dengan baik, sampah pun bisa menjadi energi alternatif. Jadi sebenarnya pemerintah juga harus membangun kesadaran masyarakatnya selain kerja sama dengan negara lain.”

“Oia, saya penggemar bapak lho, dan tadi saya sangat kagum dengan presentasinya. Karena itu, saya rela bolos kuliah. Sekian saja Pak, makasih.”

“Dik dik, namanya siapa? Pertanyaannya apa?”, ujar sang MC yang ada di depan hadirin.

“Oo, eh iya ya. Nama saya Sandi dari Matematika. Pertanyaannya, hmmm....apa pendapat Bapak tentang peluang pengembangan energi alternatif di Indonesia.”, sahut si pènanya dengan lèmpèngnya.

Tampaknya si pènanya berbicara pada dirinya sendiri sehingga ia lupa akan esensi bertanya bahkan content pertanyaannya.

*************

Di ruang rapat yang ber-AC. Meskipun ber-AC tampaknya udara Jakarta yang sudah sesak dan panas ditambah kemarahan para knalpot kendaraan memberikan efek buruk pada ruang rapat ber-AC di sore hari. Meski sudah diisi dengan nasi, tetap saja, suasana pasca siang dan keiinginan untuk segera pulang semakin membuat ruangan bertambah panas. Kebetulan bosku ada rapat penting dengan gubernur dari Sumatera dan sekali lagi aku ditugaskan sebagai asisten sorot*. Hari ini topiknya koordinasi dan pembangunan wilayah pesisir di Sumatera. Satu per satu gubernur menampilkan presentasi wilayahnya. Entah hanya ada dalam pikiranku atau memang hanya halusinasiku, tampaknya para gubernur hanya berkonsentrasi saat presentasinya saja; adapun, saat mendengarkan presentasi lainnya seperti menahan rasa kantuk yang sangat.

“Dik, tolong gambar yang tadi ditampilkan kembali. Bukan, bukan yang itu, itu loh yang ada gambar Pulau Karimun Kepulauan Riau. Ya, yang itu.”, seorang asisten gubernur memintaku untuk mencari-cari gambar yang sesuai.

Akhirnya rapat ini selesai, dan tampaknya memang tidak ada yang mencatat. Tiba-tiba seperti pemboman Hiroshima dan Nagasaki dengan sekonyong-konyong para asisten gubernur menyodorkan flashdisk kepadaku.

“Dik, tolong ya kopikan file-file presentasi tadi biar bisa dipelajari sama kami.”, ujar salah seorang asisten gubernur.

Satu per satu aku masukkan file-file presentasi tadi ke dalam flashdisk.

“Maaf pak, flashdisk Bapak penuh. Tampaknya ada yang perlu dihapus”, ujarku pada salah seorang asisten gubernur.

“Wah, ga bisa ada yang dihapus. Ya sudah, ga apa-apa, seadanya saja”, sahut si asisten tanpa wajah menyesal.

Aku kembali ke ruangan dan di sana masih ada seorang office boy, Maman namanya.

“Pak, ini minumannya, Bapak kelihatan sangat lelah”, ujar Pak Maman seraya menyodorkan segelas air putih padaku.

“Makasih pak, Bapak belum pulang?”, tanyaku padanya

“Belum, menunggu Bapak rapat.”, jawabnya dengan santun

“Makasih ya Pak, maaf merepotkan. Bapak pulang saja duluan, saya mau shalat asar dahulu dan masih ada beberapa hal yang harus saya bereskan”, sahutku menimpali.

Hufff, lelah. Hmm, tapi ternyata masih ada orang yang tidak egois.

*************

Makan malam yang nikmat meskipun tampaknya sudah dimasak empat jam yang lalu. Seperti biasa aku makan malam di rumah dan seperti biasa sampai rumah saat kebanyakan orang sudah mulai tertidur.

“Aaaa, ajarin Ade PR Bahasa Inggris ya. Ade ga ngerti nih. PR nya sulit. Bisa ya ntar habis makan”, pinta adikku.

“De, Aa capek, bisa kerjain sendiri ya”, jawabku sèkènanya

Ternyata aku pun manusia yang egois.

*asisten sorot: bertugas mengoperasikan laptop dan LCD dalam rapat khususnya saat presentasi

Pojok Jabodetabek